Sabtu, 04 Januari 2020

Cerpen Nurul Sholehuddin Sekuntum Cinta Terbakar di Padang Salju


Memulai satu kisah perjalanan hidupku dengan Bismillah disusul dengan Subhanallah, semoga hariku menjadi  hari yang penuh berkah untuk menjalankan aktifitas yang berkaromah, Selintas kenangan dimasa yang lalu membayang tentang seorang gadis anggun bermata sebening embun se elok permata, Khumairoh, begitulah panggilnya. Gadis berhijab yang namanya seringkali kusebut dalam do’a sujud ikhtiarku, dalam beribu puisi, dan dalam sejuta mimpi-mimpiku. Kisah ini akan menjadi saksi tentang kisah sepucuk cinta yang tak tersampaikan melambangkan hiasan air mata yang dibalut segumpal bongkahan empedu.
Ya… Rahman, jadikan aku seperti udara yang segar diantara nafasnya. Saat mengingat dimana bersamanya jantung ini berdegub tidak menentu nadipun berhenti sejenak , hati ini turut berdesir tiap kali namanya kudengar. Hingga satu ketika, ku dengar ia berbicara seakan terucap begitu saja, kalimat indah yang menjadi ikrar semangat dari perjalanan hidupku.
“Mas, kalau nanti sudah dewasa akan jadi orang yang pandai mengajikan? kata ustadz lelaki yang paling baik adalah yang pandai membaca al-qur’an, Khumairoh ingin Mas menjadi orang yang selalu berada disampingku sekaligus menjadi imamku suatu saat nanti, aku sayang kamu Mas “
          Mata kecilnya menatapku seakan-akan ada butir air mata yang akan mengalir, matanya yang begitu jernih menatapku dalam, sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga ingin selalu bersamanya dan menjadi orang yang halal baginya, menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir untuknya.
          Hingga tibalah satu masa dimana aku harus berpisah dengannya, melanjutkan studiku di kota orang, melanjutkan mimpi-mimpiku untuk merasakan panasnya bangku perkuliahan, menumpuk beribu harapan yang aku harap satu saat nanti juga menjadi alasanku untuk memenangkan hatinya, hati Khumairohku. Di detik terakhir perpisahanku dengannya, jantung ini berdetak dengan kencangnya seakan enggan berpisah dengannya.
“Ya, Rahman, jikalau rasa yang telah engkau amanahkan kepadaku ini adalah sebagai suatu ujian bagiku, hingga satu hari dimana aku sanggup melamarnya, aku akan setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan mengharap ridha atas semua takdirmu”, do’a kupanjatkan dalam hati, harapan yang kusampaikan sepenuh hati .
Bulanpun berganti tahun, tempat yang baru aktivitas yang baru, kesibukan yang baru, membuat hubungan kami mulai merenggang. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya, disetiap malam senyumnya selalu membayang, matanya yang teduh membuatku tak bisa memejamkan mata saat malam, berjuta resah gelisah berpadu dengan gelapnya malam. Entah mengapa hari-hariku menjadi sunyi sepi kala dia tak ada disampingku.
Dan pada hari itu, hari yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Kala mentari pagi menyibak dinginnya pagi, saat tengah perjalanan ke kampus, aku bertemu Syaifullah, sahabat karibku. Kulihat roman wajahnya yang berbinar menyapaku dan bercerita tentang kebahagiaannya pagi itu, yang ternyata menjadi awal kepedihanku.
“Assalamu’alaikum, Cong kamu tahu kenapa pagi ini aku begitu bahagia? Harusnya kamu memberi ucapan selamat dan lekas berdo’a semoga aku dan Khumairoh akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….” Dia bercerita dengan penuh semangat hingga tak bisa kusela.
“Ya Allah… Khumairoh siapa Cong?” tanyaku dengan tergagap bercampur kekhawatiran yang teramat sangat.
“Wissss kenapa kamu begitu terkejut Cong? ya itu Khumairoh tetanggamu” jawabnya seraya menatap mataku dengan senyum yang lebar.
“Oh itu…” Jawabku seraya mengangguk.
Batinku terluka, sekejap nafasku terasa tercekat, dadaku terasa terhimpit, hatiku teramat sakit.
“ Ya Allah… aku kira bukan Khumairoh pujaanku Ya Allah, tapi ternyata itu dia Ya Allah, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Syaifullah yang tidak melihat perubahan sikapku, dengan begitu semangatnya bersiap menulis sebuah surat kepada Khumairoh, sebuah surat yang aku iringi ratapan batinku.
“Dinda Khumairoh kanda berharap cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda ingin kita menjadi sepasang suami istri yang tulus menyayangi satu dengan yang lain, saling mengayomi bukan saling menghakimi, tahukah engkau adinda? Kanda saaaaaangat mencintai adinda dengan setulus hati, seraya bergandengan tangan, kita rajut jalinan kasih ini sebagai ikatan yang halal, yang semoga hanya maut yang memisahkan, jadilah ibu dari anak-anak kita nanti adinda, mari kita segerakan niat baik ini, insyaalah dalam waktu dekat kanda akan segera melamar adinda ”
Itulah sebaris kata-kata yang ditulis sahabat karibku ini dalam suratnya, melihat kebahagiaannya aku hanya terdiam, kediaman yang mungkin akan membuatku bahagia seumur hidup atau mungkin membuatku menyesal seumur hidup. Keadaan ini membuat hatiku bergolak, disatu sisi aku tak mungkin  mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada sahabatku, kalau aku juga sangat mencintai Khumairoh sejak dulu, bahkan mungkin aku jauh lebih dahulu.
Disisi yang lain ikhlaskah aku melepasnya? melepas Khumairohku. Gadis yang selalu hadir disetiap do’a dan mimpiku, gadis yang menjadi energi dalam gerak langkahku, dalam setiap lekuk karya kerjaku.  Terlebih lagi kepada sahabatku sendiri, ya sahabat dekatku akan menjadi pendamping kekasihku.
Ah, betapa hidup ini begitu memuakkan, ingin rasanya aku marah, tapi kepada siapa? Ingin rasanya aku memaki! Tapi kepada siapa? Kepada Khumairoh? Tegakah aku? Kepadanya yang selalu kubuatkan puisi kala rindu ini mulai menyesakkan dada? Ataukah kepada sahabatku? Apa salahnya? Bisakah aku menuduhnya merebut permata hidupku? Kukira tidak! Lalu kepada siapa? Kepada Tuhan? Ya, Dia yang merencanakan semua ini! Pertemuanku  dengan Khumairoh, kalimat suci yang diucapkan Khumairoh, perpisahan kami, tragedi ini, Dia yang harus bertanggung jawab!” Berjuta pertanyaan beterbangan didalam otakku, berjuta perasaan berhimpitan dihatiku, berjuta-juta manusia kenapa harus aku?
Diam akhirnya hanya diam, setelah lelah berfikir, bertanya, memaki, puncaknya hanya diam, diam berharap semua ini hanya mimpi, diam berharap semua ini tak pernah terjadi. Akhirnya kuputuskan biarlah perasaan ini tetap terpendam adanya, cukup hanya aku yang merasa dipecundangi nasib dan dipermainkan takdir.
          Entah mengapa rasanya senja sore ini terlalu temaram, “Ya Rahman… hari ini hatiku menangis mempertanyakan takdirmu memisahkanku dengan cahaya hidupku. Betapa sulit membayangkan akan ada orang yang memiliki cahaya itu, cahaya yang pernah aku harap menjadi penerang dalam hidupku dan mengapa harus sahabatku sendiri Ya Rahim? Inikah takdirku? Takdir yang harus aku terima?” tak ada yang berubah hingga senja berganti malam, meninggalkan hatiku yang tetap dalam kebimbangannya.
          Beberapa waktu kemudian, tak sengaja aku mengetahui bahwa Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, meski perih akupun turut membaca suratnya, tanganku gemetar, dan hatiku berteriak seperti kerasukan jin, tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku terkejut dengan semua yang dia tulis, sungguh aku sangat terkejut.
“Teruntuk kanda Syaifullah, terimakasih kanda telah menitipkan rasa cinta kanda yang demikian besar kepada adinda. Sungguh gembira hati adinda karena sungguh dari awal pandangan pertama, adinda sudah merasakan bahwa hati inipun mengharapkan kanda. Tapi tidakkah kanda salah memilih adinda yang hanya gadis biasa sedangkan kanda begitu sempurna? Insyaallah adinda siap menjadi orang yang halal bagi kanda, adinda menurut saja kapanpun kanda akan melamar dan siap menjadi imam adinda “
          Aku putuskan untuk tidak melanjutkan membaca surat itu, dan setelahnya tak pernah lelah aku bertanya pada hatiku sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku.
“Lalu apa arti perjumpaanku dulu dengannya, aku yang selalu ada untuknya, dan pengorbanan yang aku berikan padanya? Lalu apa artinya saat dia mengungkapkan semoga kelak aku menjadi imamnya? Apa maksud-Mu Ya Rahman? Apa sebenarnya mau-Mu? Apa salahku Ya Allah Ya Robbi ????”
“Ya Rahman, jujur akupun ingin merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Adakah kesempatan untuk aku merasakan cinta yang membahagiakan? Ya Rahman jika memang ini yang Engkau inginkan dariku, mulai saat ini kugantungkan pilihan terbaikku pada dirimu Ya Rahman, Insyaallah aku akan berusaha menerima dengan ikhlas apapun takdirku”.
Tak lama kemudian janur kuningpun melengkung disetiap rumah mereka masing-masing, pertanda mereka akan menjalani pernikahan. Aku hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa menjalani takdir yang aku sendiri tidak pernah mengerti arah dan akhirnya, biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana kisah hidupku ini akan berlanjut. Pelan tapi pasti, aku berharap waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Meski aku tahu, hidup memang tak pernah mulus, akan ada yang namanya lika-liku, tapi kenyataannya sungguh tidak semudah teorinya. Sesudahnya aku berusaha menjalani hari-hariku ini dengan sabar, karena aku yakin akan ada hikmah dibalik semua rahasia ini.
Setahunpun berlalu, aku mendengar kabar yang entah harusnya aku bersedih atau bahagia karenanya. Sering kali kudengar dari teman-temanku bahwa rumah tangga yang dibangun Syaifullah dan Khumairoh kurang harmonis, kerap kali mereka bertengkar hanya untuk hal-hal yang sepele. Ada rasa senang membuncah dalam dada kala aku merasa sakit hatiku mulai terbayarkan, ada rasa sedih kala mengingat seseorang yang kusayangi dan sahabatku menjalani hidup yang tidak bahagia. Aku hanya berdo’a semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kami bertiga, semoga rahmat dan ridlo-Nya menyertai kami dimanapun kami berada.
Bagaimanapun hidup harus tetap berlanjut, ditempat yang baru ini, dengan suasana yang baru ini, aku mulai melupakan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan itu. Berkat kesibukan dan teman-teman baruku, aku berhasil menjadi pribadi yang baru. Aku mulai menjalani kegiatan-kegiatan positif dan mengembangkan kegemaranku, dari membaca, menulis, hingga tahfidz Qur’an.


Mungkin berkat masa lalu aku banyak belajar untuk mempersiapkan masa depan, rasa sakit itu mengajarkanku banyak hal, dari memakinya, menikmatinya, hingga bersyukur atasnya, lalu merubah energinya untuk menjemput kebahagiaanku sendiri. Ah Tuhan memang selalu seperti itu, tak pernah aku mengerti cara-Nya mencintai hamba-Nya, tak pernah bisa kuduga  jalan fikiran-Nya, tak pernah bisa aku fahami candaan-Nya. Dia memang sutradara yang paling gila, yang tak pernah gagal membuat hamba-Nya bertekuk lutut dan jatuh hati kepada-Nya. Entahlah, aku merasa kali ini Dia tersenyum padaku, senyum yang tak bisa benar-benar aku fahami, tersenyum atas akhir kisahku ini atau mungkin untuk kisahku selanjutnya nanti. Tapi satu hal yang aku tahu, Dia adalah kekasih yang paling romantis. (Di2n Bayer)


















Tidak ada komentar: