Memulai satu kisah perjalanan
hidupku dengan Bismillah disusul dengan
Subhanallah, semoga hariku menjadi hari yang penuh berkah untuk menjalankan aktifitas yang berkaromah,
Selintas kenangan dimasa yang lalu membayang tentang seorang gadis anggun
bermata sebening embun se elok permata,
Khumairoh, begitulah panggilnya.
Gadis berhijab yang namanya seringkali kusebut dalam do’a sujud ikhtiarku, dalam beribu
puisi, dan dalam sejuta
mimpi-mimpiku. Kisah ini akan menjadi saksi tentang kisah sepucuk cinta yang tak
tersampaikan melambangkan hiasan air mata
yang dibalut segumpal bongkahan empedu.
|
|
“Mas,
kalau nanti sudah dewasa akan jadi orang yang pandai mengajikan? kata ustadz
lelaki yang paling baik adalah yang pandai membaca al-qur’an, Khumairoh ingin
Mas menjadi orang yang selalu berada disampingku sekaligus menjadi imamku suatu
saat nanti, aku sayang kamu Mas “
Mata kecilnya menatapku seakan-akan
ada butir air mata yang akan mengalir, matanya yang begitu jernih menatapku
dalam, sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga ingin selalu
bersamanya dan menjadi orang yang halal baginya, menjadi yang pertama sekaligus
yang terakhir untuknya.
Hingga tibalah satu masa dimana aku
harus berpisah dengannya, melanjutkan studiku di kota orang, melanjutkan
mimpi-mimpiku untuk merasakan panasnya bangku perkuliahan, menumpuk beribu
harapan yang aku harap satu saat nanti juga menjadi alasanku untuk memenangkan
hatinya, hati Khumairohku. Di detik terakhir perpisahanku dengannya, jantung
ini berdetak dengan kencangnya seakan enggan berpisah dengannya.
“Ya,
Rahman, jikalau rasa yang telah engkau amanahkan kepadaku ini adalah sebagai
suatu ujian bagiku, hingga satu hari dimana aku sanggup melamarnya, aku akan
setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan mengharap
ridha atas semua takdirmu”, do’a kupanjatkan dalam hati, harapan yang
kusampaikan sepenuh hati .
Bulanpun
berganti tahun, tempat yang baru aktivitas yang baru, kesibukan yang baru,
membuat hubungan kami mulai merenggang. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya,
disetiap malam senyumnya selalu membayang, matanya yang teduh membuatku tak
bisa memejamkan mata saat malam, berjuta resah gelisah berpadu dengan gelapnya
malam. Entah mengapa hari-hariku menjadi sunyi sepi kala dia tak ada
disampingku.
Dan
pada hari itu, hari yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Kala mentari
pagi menyibak dinginnya pagi, saat tengah perjalanan ke kampus, aku bertemu
Syaifullah, sahabat karibku. Kulihat roman wajahnya yang berbinar menyapaku dan
bercerita tentang kebahagiaannya pagi itu, yang ternyata menjadi awal
kepedihanku.
“Assalamu’alaikum,
Cong kamu tahu kenapa pagi ini aku
begitu bahagia? Harusnya kamu memberi ucapan selamat dan lekas berdo’a semoga
aku dan Khumairoh akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….” Dia bercerita
dengan penuh semangat hingga tak bisa kusela.
“Ya
Allah… Khumairoh siapa Cong?” tanyaku
dengan tergagap bercampur kekhawatiran yang teramat sangat.
“Wissss
kenapa kamu begitu terkejut Cong? ya
itu Khumairoh tetanggamu” jawabnya seraya menatap mataku dengan senyum yang
lebar.
“Oh
itu…” Jawabku seraya mengangguk.
Batinku
terluka, sekejap nafasku terasa tercekat, dadaku terasa terhimpit, hatiku
teramat sakit.
“
Ya Allah… aku kira bukan Khumairoh pujaanku Ya Allah, tapi ternyata itu dia Ya
Allah, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Syaifullah
yang tidak melihat perubahan sikapku, dengan begitu semangatnya bersiap menulis
sebuah surat kepada Khumairoh, sebuah surat yang aku iringi ratapan batinku.
“Dinda
Khumairoh kanda berharap cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda
ingin kita menjadi sepasang suami istri yang tulus menyayangi satu dengan yang
lain, saling mengayomi bukan saling menghakimi, tahukah engkau adinda? Kanda
saaaaaangat mencintai adinda dengan setulus hati, seraya bergandengan tangan,
kita rajut jalinan kasih ini sebagai ikatan yang halal, yang semoga hanya maut
yang memisahkan, jadilah ibu dari anak-anak kita nanti adinda, mari kita
segerakan niat baik ini, insyaalah dalam waktu dekat kanda akan segera melamar
adinda ”
Itulah
sebaris kata-kata yang ditulis sahabat karibku ini dalam suratnya, melihat
kebahagiaannya aku hanya terdiam, kediaman yang mungkin akan membuatku bahagia
seumur hidup atau mungkin membuatku menyesal seumur hidup. Keadaan ini membuat
hatiku bergolak, disatu sisi aku tak mungkin
mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada sahabatku, kalau aku juga sangat
mencintai Khumairoh sejak dulu, bahkan mungkin aku jauh lebih dahulu.
Disisi
yang lain ikhlaskah aku melepasnya? melepas Khumairohku. Gadis yang selalu
hadir disetiap do’a dan mimpiku, gadis yang menjadi energi dalam gerak
langkahku, dalam setiap lekuk karya kerjaku.
Terlebih lagi kepada sahabatku sendiri, ya sahabat dekatku akan menjadi
pendamping kekasihku.
Ah,
betapa hidup ini begitu memuakkan, ingin rasanya aku marah, tapi kepada siapa?
Ingin rasanya aku memaki! Tapi kepada siapa? Kepada Khumairoh? Tegakah aku?
Kepadanya yang selalu kubuatkan puisi kala rindu ini mulai menyesakkan dada?
Ataukah kepada sahabatku? Apa salahnya? Bisakah aku menuduhnya merebut permata
hidupku? Kukira tidak! Lalu kepada siapa? Kepada Tuhan? Ya, Dia yang
merencanakan semua ini! Pertemuanku dengan
Khumairoh, kalimat suci yang diucapkan Khumairoh, perpisahan kami, tragedi ini,
Dia yang harus bertanggung jawab!” Berjuta pertanyaan beterbangan didalam
otakku, berjuta perasaan berhimpitan dihatiku, berjuta-juta manusia kenapa
harus aku?
Diam
akhirnya hanya diam, setelah lelah berfikir, bertanya, memaki, puncaknya hanya
diam, diam berharap semua ini hanya mimpi, diam berharap semua ini tak pernah
terjadi. Akhirnya kuputuskan biarlah perasaan ini tetap terpendam adanya, cukup
hanya aku yang merasa dipecundangi nasib dan dipermainkan takdir.
|
|
Beberapa waktu kemudian, tak sengaja
aku mengetahui bahwa Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, meski perih
akupun turut membaca suratnya, tanganku gemetar, dan hatiku berteriak seperti
kerasukan jin, tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku terkejut dengan
semua yang dia tulis, sungguh aku sangat terkejut.
“Teruntuk
kanda Syaifullah, terimakasih kanda telah menitipkan rasa cinta kanda yang
demikian besar kepada adinda. Sungguh gembira hati adinda karena sungguh dari
awal pandangan pertama, adinda sudah merasakan bahwa hati inipun mengharapkan
kanda. Tapi tidakkah kanda salah memilih adinda yang hanya gadis biasa sedangkan
kanda begitu sempurna? Insyaallah adinda siap menjadi orang yang halal bagi
kanda, adinda menurut saja kapanpun kanda akan melamar dan siap menjadi imam
adinda “
Aku putuskan untuk tidak melanjutkan
membaca surat itu, dan setelahnya tak pernah lelah aku bertanya pada hatiku
sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku.
“Lalu
apa arti perjumpaanku dulu dengannya, aku yang selalu ada untuknya, dan pengorbanan
yang aku berikan padanya? Lalu apa artinya saat dia mengungkapkan semoga kelak
aku menjadi imamnya? Apa maksud-Mu Ya Rahman? Apa sebenarnya mau-Mu? Apa
salahku Ya Allah Ya Robbi ????”
“Ya
Rahman, jujur akupun ingin merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Adakah
kesempatan untuk aku merasakan cinta yang membahagiakan? Ya Rahman jika memang
ini yang Engkau inginkan dariku, mulai saat ini kugantungkan pilihan terbaikku
pada dirimu Ya Rahman, Insyaallah aku akan berusaha menerima dengan ikhlas apapun
takdirku”.
Tak
lama kemudian janur kuningpun melengkung disetiap rumah mereka masing-masing,
pertanda mereka akan menjalani pernikahan. Aku hanya pasrah pada Yang Maha
Kuasa menjalani takdir yang aku sendiri tidak pernah mengerti arah dan
akhirnya, biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana kisah hidupku ini akan
berlanjut. Pelan tapi pasti, aku berharap waktu yang akan menyembuhkan luka
ini. Meski aku tahu, hidup memang tak pernah mulus, akan ada yang namanya
lika-liku, tapi kenyataannya sungguh tidak semudah teorinya. Sesudahnya aku
berusaha menjalani hari-hariku ini dengan sabar, karena aku yakin akan ada
hikmah dibalik semua rahasia ini.
Setahunpun
berlalu, aku mendengar kabar yang entah harusnya aku bersedih atau bahagia
karenanya. Sering kali kudengar dari teman-temanku bahwa rumah tangga yang
dibangun Syaifullah dan Khumairoh kurang harmonis, kerap kali mereka bertengkar
hanya untuk hal-hal yang sepele. Ada rasa senang membuncah dalam dada kala aku
merasa sakit hatiku mulai terbayarkan, ada rasa sedih kala mengingat seseorang
yang kusayangi dan sahabatku menjalani hidup yang tidak bahagia. Aku hanya
berdo’a semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kami bertiga, semoga rahmat
dan ridlo-Nya menyertai kami dimanapun kami berada.
Bagaimanapun
hidup harus tetap berlanjut, ditempat yang baru ini, dengan suasana yang baru
ini, aku mulai melupakan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan itu. Berkat
kesibukan dan teman-teman baruku, aku berhasil menjadi pribadi yang baru. Aku
mulai menjalani kegiatan-kegiatan positif dan mengembangkan kegemaranku, dari
membaca, menulis, hingga tahfidz Qur’an.
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar