Sabtu, 04 Januari 2020

Cerpen Nurul Sholehuddin “Gadis Berselimut Darah…”



Aku mulai tersadar, dan telah terbangun dari perjalanan indah mimpi semuku bersama gadis berselimut darah. Aku telah membuka mata setelah sekian lama terpejam menikmati malam indahku, berkelana menanti senja kala siang bangunnanku. Gadis berselimut darah telah mengingkari embun nikmatnya setelah apa yang telah dilakukan pada pemuda berkoin lentera. Ia tak pernah kembali usai perjanjian singkat lalu. Meski mentari senja masih tak jemu melakukan rutinitas siklus waktu: siang-malam. Gadis itu tak pernah kembali lagi mengiringi mentari senja. Ia pergi seiring tenggelamnya mentari di ufuk pada hari itu. Entah untuk mencari dan menemukan galaksi baru, dengan bintang barunya yang mungkin sinarnya jauh lebih terang dibanding dengan sinar bintang satu-satunya di galaksi Bimasakti: Matahari. Entah, mungkin di sana ia juga akan menemui pemuda lain untuk diberi penawaran yang membingunkan, untuk memilih siang atau malam saat kita berada di antara keduanya.
Aku masih mengenang senja. Air mata pemuda berkoin lentera telah mengkristal. Membentuk butiran permata berkilau yang tak terkalahkan sinarnya oleh permata terindah yang pernah diketemukan di planet ini sekalipun. Namun, seperti halnya perhiasan apapun – tetaplah perhiasan, ia hanya berbicara melalui nostalgia ingatan penglihatnya. Gadis itu hanya meninggalkan bercak ukiran yang menaburkan aroma tak sedap dalam goresan sejarah

Di sini, di galaksi ini, aku telah terbangun di pagi hari. Aku     menyadari kedatangan bintang satu-satunya galaksi tempatku berada kini: Matahari. Di momen ini, ku teringat bagaimana gadis itu membayangkan satu bintang, membuat miniatur bintang imajinernya. Teringat pula saat ia menawariku untuk memilih siang ataukah malam, namun tak kupilih keduanya. Dan gadis itu berlalu pergi meninggalkan air mata yang telah mengkristal, kini. Yah, ia telah pindah ke galaksi lain mencari dan menemukan bintang barunya. Kurasa, air mata kristalnya ini juga berguna untuk memberikan sinyal melalui pancaran cahaya sehingga aku masih tetap bisa berkomunikasi dengannya, pun hanya sekedip. Tanpa tatap muka, di ruang hampa. Mungkin, seperti saat kau menyalakan senter kecil di tengah laut saat helikopter penyelamat melintas di atasmu, dan ia tak melihatmu – ternyata.
Aku melanjutkan hidup di galaksi ini, bersama keceriaan sinar mentari pagi yang mengirimkan energi quark-quarknya untuk menggairahkan bunga-bunga di tamanku. Di sini, di galaksi ini, aku telah tersadar, bahwa aku tak lagi berada dalam senja yang merumitkan itu. aku tak lagi dibingungkan dengan siang atau malam. Usai perpisahan itu, aku sadari bahwa aku telah melewati malam panjangku bersama mimpi-mimpi dan kini telah kusambut pagi dengan sinar mentari yang menghangatkanku. Ku sapa bunga-bunga yang menari riang menyambut pasukan sinar. Satu bunga terlihat amat berbeda dari kebanyakannya, aku memetiknya. Namun, betapa kagetnya aku, tiba-tiba ia terbang seperti kupu-kupu, lalu berputar-putar di atas kepalaku.         “Bolehkah aku hinggap disini, di bahumu ini?” tanyanya. Aku masih kebingungan, tapi mulutku dengan spontan langsung saja berucap
“yah, silahkan jika itu membuatmu gembira” jawabku sekenanya. Ia secepat kilat meluncur lalu hinggap dan tertawa riang sekali. “Terima kasih banyak wahai kesatria, sekarang bawalah aku kemanapun kau mau. Aku ingin bersamamu selalu”. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi ini. Dia bunga teraneh yang pernah kutemui, ini diluar kebiasaan. Aku juga masih tak percaya dengan apa yang aku lakukan. Aku memetik bunga, dan bunganya terbang berputar-putar di atas kepalaku. Lalu seperti seorang putri yang baru saja dibebaskan pangeran pemberani dari penjara ratu sihir, bunga itu lantas hinggap di bahuku, mungkin sebagai tanda terima kasih. Bunga yang aneh, perpaduan kaktus di tanah tandus, dan teratai di air, sungguh aneh.
          Aku melihat satu titik kecil berwana putih cerah, hanya satu titik yang sangat kecil. Tapi entah kenapa ia menyorot tajam ke mataku. Aku tahu, aku telah berada di galaksi lain. Tapi kenapa ada sorotan tajam dari sana. Apa ia berasal dari bumi? Oh tidak, aku tak ingin lagi mengenangnya. Ingatan tentang bumi dan matahari yang mengiringi perjalanan hidupnya sangat menyebalkan untuk diingat. Bumi, dan isinya terlalu munafik bagiku. Ia hanya seutas sangkalan yang hanya menikmati dirinya sendiri. Apa dia pikir tak ada lagi galaksi lain di luar Bimasakti? Naif sekali. Huh, ia pikir, ia gadis satu-satunya. Waktu terus berjalan, dan ia tak memilih satupun. Ia bilang, ia mencintaiku, tapi nyatanya ia tak mau beresiko. Ah, dia terlalu munafik. Untuk apa aku meneteskan airmata saat meninggalkannya waktu itu?
Oh, di sini, di galaksi ini sungguh sangatlah cerah. Bintangnya jauh luar biasa indah dibanding Matahari di Bimasakti. Tapi, kenapa setitik sinar kecil dari bumi itu menyorot tajam ke mataku? Sungguh, rasaku tak mampu kubujuk, meski logikaku sangat memusuhinya. Aku merindunya, pemuda bumi yang kucinta, tapi juga si keparat, munafik, bah. Barangkali, bintang di sini lebih nyaman dari yang di sana. Tapi ini benar-benar rumit. Duhai, apa yang harus kulakukan? Apa harus kuteteskan lagi air mata ini, lalu ku kristalkan, yang nantinya bisa memantulkan cahaya bintang di tempat baruku ini hingga ia sampai ke bumi dan menyoroti mata pemuda itu? tidak.. sungguh, jangan sampai aku lakukan itu.. tidak, tidak…”
Gadis berselimut darah beberapa saat masih kebingungan ketika ia sampai di tempat barunya. Air mata yang ia tahan menetes juga pada akhirnya. Air mata itu terjatuh di daratan beku planet baru yang ia injak kini. Sekejap, air matanya mengkristal memancarkan sinar yang sungguh sangat menyilaukan. Ia berusaha menutupi dengan sisi bawah gaunnya, tak berhasil. Ia lalu menduduki air mata yang mengkristal itu, lebih parah. Sinarnya justru terserap ke tubuhnya dan membuat sinar kristal itu lebih besar lagi hingga cahayanya melebihi bintang Matahari di Bimasakti. Gadis itu lelah, lalu berdiri kembali. Perlahan ia ambil air mata yang telah mengkristal itu. Diangkatnya dengan kedua tangan, diarah kannya ke bumi. Larutlah ia bersama kenangannya “Sayang, kau memang menyebalkan. Inikah yang kau sebut cinta, hah? Kau, hanya memanfatkan ragaku untuk perjalan pendidikanmu, kau mencampakkan pilihan yang kuberikan. Lalu, Inikah maumu, Ummi?, kau menjawab sinyal itu. dengan rasa kesal yang teramat “Aku mencintaimu karna kau membantuku dalam urusanku”. Dengan teriakan nada itu goncangan hati menari bagaikan ombak yang menghantam batu karang, perjalananku sungguh dijadika jalan untuk kepuasan hatinya.
Dari kejauhan, kulihat titik putih kecil di langit, pada sore ini. yah, sore ini aku mengambil airmata gadis darah yang telah mengkristal tadi. air mata yang ditinggalkannya terakhir kali saat ia meninggalkanku. Aku menghadapkannya ke mentari sore yang bersiap tenggelam. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi berharap pancaran sinarnya akan terlihat oleh gadis itu, entah di galaksi mana ia berada. Titik kecil itu, mungkinkah ia menjawab sinyal dariku ini? entahlah. Yang jelas, ini salam rinduku untuknya, biar terlihat ataupun tidak olehnya.
Bunga aneh di bahuku mendekapkan hinggapannya lebih erat.
“Untuk apa kau lakukan semua ini, wahai kesatria?” tanyanya menghapus lamunanku.
“Eh, eh… ti.. tidak. aku hanya ingin mempersembahkan untukmu cahaya indah di sore ini. kau suka?” jawabku tergagap mencoba membuatnya senang.
“Oh, indah sekali. Terima kasih, sayang”. Dalam hati, aku sungguh sangat merasa kesal pada diriku sendiri. Kenapa ku harus mengingatnya. Mungkin inilah waktunya, di sore yang menanti senja ini, untuk terakhir kalinya aku mengenang gadis berselimut darah itu. Aku harus beranjak pada malam. Bersambut dengan mimpi-mimpi indah yang bisa kurajut dengan bunga aneh yang menempel ini. Dan mungkin, ini saatnya untukku mencintai apa yang juga mencintaiku. Selamat tinggal gadis berselimut darah. Selamat datang cinta baru.
Dan malam telah menelan siang. Setitik putih di langit tak kulihat lagi. Aku menari riang bersama bunga anehku. Kunang-kunang mengerubungiku, berkelip indah membentuk simponi cahaya. Terbang nyata di sekeliling. Seperti kelip bintang di malam hari, tapi mereka tak semaya bintang nan jauh yang hanya bisa kupandangi. Kunang-kunang, mampu kutangkap dengan kepalan tanganku sendiri, ia benar-benar nyata di hadapanku. Semoga kau memanfaatkan ladang yang telah kau tanami bekas goresan lewat jendela kalbumu, yang begitu lembut tata riasmu walaupun kau sebenarnya tak lebih dari binanatang buas. (Didin Bayer)

Cerpen Nurul Sholehuddin Sekuntum Cinta Terbakar di Padang Salju


Memulai satu kisah perjalanan hidupku dengan Bismillah disusul dengan Subhanallah, semoga hariku menjadi  hari yang penuh berkah untuk menjalankan aktifitas yang berkaromah, Selintas kenangan dimasa yang lalu membayang tentang seorang gadis anggun bermata sebening embun se elok permata, Khumairoh, begitulah panggilnya. Gadis berhijab yang namanya seringkali kusebut dalam do’a sujud ikhtiarku, dalam beribu puisi, dan dalam sejuta mimpi-mimpiku. Kisah ini akan menjadi saksi tentang kisah sepucuk cinta yang tak tersampaikan melambangkan hiasan air mata yang dibalut segumpal bongkahan empedu.
Ya… Rahman, jadikan aku seperti udara yang segar diantara nafasnya. Saat mengingat dimana bersamanya jantung ini berdegub tidak menentu nadipun berhenti sejenak , hati ini turut berdesir tiap kali namanya kudengar. Hingga satu ketika, ku dengar ia berbicara seakan terucap begitu saja, kalimat indah yang menjadi ikrar semangat dari perjalanan hidupku.
“Mas, kalau nanti sudah dewasa akan jadi orang yang pandai mengajikan? kata ustadz lelaki yang paling baik adalah yang pandai membaca al-qur’an, Khumairoh ingin Mas menjadi orang yang selalu berada disampingku sekaligus menjadi imamku suatu saat nanti, aku sayang kamu Mas “
          Mata kecilnya menatapku seakan-akan ada butir air mata yang akan mengalir, matanya yang begitu jernih menatapku dalam, sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga ingin selalu bersamanya dan menjadi orang yang halal baginya, menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir untuknya.
          Hingga tibalah satu masa dimana aku harus berpisah dengannya, melanjutkan studiku di kota orang, melanjutkan mimpi-mimpiku untuk merasakan panasnya bangku perkuliahan, menumpuk beribu harapan yang aku harap satu saat nanti juga menjadi alasanku untuk memenangkan hatinya, hati Khumairohku. Di detik terakhir perpisahanku dengannya, jantung ini berdetak dengan kencangnya seakan enggan berpisah dengannya.
“Ya, Rahman, jikalau rasa yang telah engkau amanahkan kepadaku ini adalah sebagai suatu ujian bagiku, hingga satu hari dimana aku sanggup melamarnya, aku akan setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan mengharap ridha atas semua takdirmu”, do’a kupanjatkan dalam hati, harapan yang kusampaikan sepenuh hati .
Bulanpun berganti tahun, tempat yang baru aktivitas yang baru, kesibukan yang baru, membuat hubungan kami mulai merenggang. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya, disetiap malam senyumnya selalu membayang, matanya yang teduh membuatku tak bisa memejamkan mata saat malam, berjuta resah gelisah berpadu dengan gelapnya malam. Entah mengapa hari-hariku menjadi sunyi sepi kala dia tak ada disampingku.
Dan pada hari itu, hari yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Kala mentari pagi menyibak dinginnya pagi, saat tengah perjalanan ke kampus, aku bertemu Syaifullah, sahabat karibku. Kulihat roman wajahnya yang berbinar menyapaku dan bercerita tentang kebahagiaannya pagi itu, yang ternyata menjadi awal kepedihanku.
“Assalamu’alaikum, Cong kamu tahu kenapa pagi ini aku begitu bahagia? Harusnya kamu memberi ucapan selamat dan lekas berdo’a semoga aku dan Khumairoh akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….” Dia bercerita dengan penuh semangat hingga tak bisa kusela.
“Ya Allah… Khumairoh siapa Cong?” tanyaku dengan tergagap bercampur kekhawatiran yang teramat sangat.
“Wissss kenapa kamu begitu terkejut Cong? ya itu Khumairoh tetanggamu” jawabnya seraya menatap mataku dengan senyum yang lebar.
“Oh itu…” Jawabku seraya mengangguk.
Batinku terluka, sekejap nafasku terasa tercekat, dadaku terasa terhimpit, hatiku teramat sakit.
“ Ya Allah… aku kira bukan Khumairoh pujaanku Ya Allah, tapi ternyata itu dia Ya Allah, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Syaifullah yang tidak melihat perubahan sikapku, dengan begitu semangatnya bersiap menulis sebuah surat kepada Khumairoh, sebuah surat yang aku iringi ratapan batinku.
“Dinda Khumairoh kanda berharap cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda ingin kita menjadi sepasang suami istri yang tulus menyayangi satu dengan yang lain, saling mengayomi bukan saling menghakimi, tahukah engkau adinda? Kanda saaaaaangat mencintai adinda dengan setulus hati, seraya bergandengan tangan, kita rajut jalinan kasih ini sebagai ikatan yang halal, yang semoga hanya maut yang memisahkan, jadilah ibu dari anak-anak kita nanti adinda, mari kita segerakan niat baik ini, insyaalah dalam waktu dekat kanda akan segera melamar adinda ”
Itulah sebaris kata-kata yang ditulis sahabat karibku ini dalam suratnya, melihat kebahagiaannya aku hanya terdiam, kediaman yang mungkin akan membuatku bahagia seumur hidup atau mungkin membuatku menyesal seumur hidup. Keadaan ini membuat hatiku bergolak, disatu sisi aku tak mungkin  mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada sahabatku, kalau aku juga sangat mencintai Khumairoh sejak dulu, bahkan mungkin aku jauh lebih dahulu.
Disisi yang lain ikhlaskah aku melepasnya? melepas Khumairohku. Gadis yang selalu hadir disetiap do’a dan mimpiku, gadis yang menjadi energi dalam gerak langkahku, dalam setiap lekuk karya kerjaku.  Terlebih lagi kepada sahabatku sendiri, ya sahabat dekatku akan menjadi pendamping kekasihku.
Ah, betapa hidup ini begitu memuakkan, ingin rasanya aku marah, tapi kepada siapa? Ingin rasanya aku memaki! Tapi kepada siapa? Kepada Khumairoh? Tegakah aku? Kepadanya yang selalu kubuatkan puisi kala rindu ini mulai menyesakkan dada? Ataukah kepada sahabatku? Apa salahnya? Bisakah aku menuduhnya merebut permata hidupku? Kukira tidak! Lalu kepada siapa? Kepada Tuhan? Ya, Dia yang merencanakan semua ini! Pertemuanku  dengan Khumairoh, kalimat suci yang diucapkan Khumairoh, perpisahan kami, tragedi ini, Dia yang harus bertanggung jawab!” Berjuta pertanyaan beterbangan didalam otakku, berjuta perasaan berhimpitan dihatiku, berjuta-juta manusia kenapa harus aku?
Diam akhirnya hanya diam, setelah lelah berfikir, bertanya, memaki, puncaknya hanya diam, diam berharap semua ini hanya mimpi, diam berharap semua ini tak pernah terjadi. Akhirnya kuputuskan biarlah perasaan ini tetap terpendam adanya, cukup hanya aku yang merasa dipecundangi nasib dan dipermainkan takdir.
          Entah mengapa rasanya senja sore ini terlalu temaram, “Ya Rahman… hari ini hatiku menangis mempertanyakan takdirmu memisahkanku dengan cahaya hidupku. Betapa sulit membayangkan akan ada orang yang memiliki cahaya itu, cahaya yang pernah aku harap menjadi penerang dalam hidupku dan mengapa harus sahabatku sendiri Ya Rahim? Inikah takdirku? Takdir yang harus aku terima?” tak ada yang berubah hingga senja berganti malam, meninggalkan hatiku yang tetap dalam kebimbangannya.
          Beberapa waktu kemudian, tak sengaja aku mengetahui bahwa Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, meski perih akupun turut membaca suratnya, tanganku gemetar, dan hatiku berteriak seperti kerasukan jin, tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku terkejut dengan semua yang dia tulis, sungguh aku sangat terkejut.
“Teruntuk kanda Syaifullah, terimakasih kanda telah menitipkan rasa cinta kanda yang demikian besar kepada adinda. Sungguh gembira hati adinda karena sungguh dari awal pandangan pertama, adinda sudah merasakan bahwa hati inipun mengharapkan kanda. Tapi tidakkah kanda salah memilih adinda yang hanya gadis biasa sedangkan kanda begitu sempurna? Insyaallah adinda siap menjadi orang yang halal bagi kanda, adinda menurut saja kapanpun kanda akan melamar dan siap menjadi imam adinda “
          Aku putuskan untuk tidak melanjutkan membaca surat itu, dan setelahnya tak pernah lelah aku bertanya pada hatiku sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku.
“Lalu apa arti perjumpaanku dulu dengannya, aku yang selalu ada untuknya, dan pengorbanan yang aku berikan padanya? Lalu apa artinya saat dia mengungkapkan semoga kelak aku menjadi imamnya? Apa maksud-Mu Ya Rahman? Apa sebenarnya mau-Mu? Apa salahku Ya Allah Ya Robbi ????”
“Ya Rahman, jujur akupun ingin merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Adakah kesempatan untuk aku merasakan cinta yang membahagiakan? Ya Rahman jika memang ini yang Engkau inginkan dariku, mulai saat ini kugantungkan pilihan terbaikku pada dirimu Ya Rahman, Insyaallah aku akan berusaha menerima dengan ikhlas apapun takdirku”.
Tak lama kemudian janur kuningpun melengkung disetiap rumah mereka masing-masing, pertanda mereka akan menjalani pernikahan. Aku hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa menjalani takdir yang aku sendiri tidak pernah mengerti arah dan akhirnya, biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana kisah hidupku ini akan berlanjut. Pelan tapi pasti, aku berharap waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Meski aku tahu, hidup memang tak pernah mulus, akan ada yang namanya lika-liku, tapi kenyataannya sungguh tidak semudah teorinya. Sesudahnya aku berusaha menjalani hari-hariku ini dengan sabar, karena aku yakin akan ada hikmah dibalik semua rahasia ini.
Setahunpun berlalu, aku mendengar kabar yang entah harusnya aku bersedih atau bahagia karenanya. Sering kali kudengar dari teman-temanku bahwa rumah tangga yang dibangun Syaifullah dan Khumairoh kurang harmonis, kerap kali mereka bertengkar hanya untuk hal-hal yang sepele. Ada rasa senang membuncah dalam dada kala aku merasa sakit hatiku mulai terbayarkan, ada rasa sedih kala mengingat seseorang yang kusayangi dan sahabatku menjalani hidup yang tidak bahagia. Aku hanya berdo’a semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kami bertiga, semoga rahmat dan ridlo-Nya menyertai kami dimanapun kami berada.
Bagaimanapun hidup harus tetap berlanjut, ditempat yang baru ini, dengan suasana yang baru ini, aku mulai melupakan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan itu. Berkat kesibukan dan teman-teman baruku, aku berhasil menjadi pribadi yang baru. Aku mulai menjalani kegiatan-kegiatan positif dan mengembangkan kegemaranku, dari membaca, menulis, hingga tahfidz Qur’an.


Mungkin berkat masa lalu aku banyak belajar untuk mempersiapkan masa depan, rasa sakit itu mengajarkanku banyak hal, dari memakinya, menikmatinya, hingga bersyukur atasnya, lalu merubah energinya untuk menjemput kebahagiaanku sendiri. Ah Tuhan memang selalu seperti itu, tak pernah aku mengerti cara-Nya mencintai hamba-Nya, tak pernah bisa kuduga  jalan fikiran-Nya, tak pernah bisa aku fahami candaan-Nya. Dia memang sutradara yang paling gila, yang tak pernah gagal membuat hamba-Nya bertekuk lutut dan jatuh hati kepada-Nya. Entahlah, aku merasa kali ini Dia tersenyum padaku, senyum yang tak bisa benar-benar aku fahami, tersenyum atas akhir kisahku ini atau mungkin untuk kisahku selanjutnya nanti. Tapi satu hal yang aku tahu, Dia adalah kekasih yang paling romantis. (Di2n Bayer)