The Laws

Dengan matanya yang kuyu ia menerawang jauh melihat ke sekeliling dari balik jendela kaca yang terus bergerak, pada segala hal yang mungkin saja baru dapat ia lihat untuk pertamakali dalam hidupnya, meskipun masih tampak samar. Lelaki yang menerawang jauh itu usianya sudah sangat tua, terlebih jika dilihat dari penampilan fisiknya: laki-laki berambut putih cepak penuh uban. Lengkap dengan kulitnya yang sudah keriput. Lelaki tua itu di dalam sebuah bus reot yang datang dengan terguncang-guncang. Sebagai benda tua yang berjalan terseok-seok memasuki terminal, mungkin sudah tak kuat lagi menaggung segala beban itu, akhirnya teronggoklah dia, meraung sebentar dan langsung mogok setelah berhenti dengan napas batuk tersenggal-senggal. Manusia-manusia pengisi perut benda usang itu pun berhamburan ke luar, seakan benci kepanasan di dalam benda ini atau jemu dengan rona warnanya yang memudar dan mulai berkarat di sana-sini, malah semakin tampak pudar ketika sinar pagi perlahan menerpanya.
Adalah hal yang biasa, dan bisa setiap hari ditemui, bahkan hampir tak ada hal yang menarik bagi orang-orang urban itu: para buruh yang baru pulang kerja, sopir yang mengejar setoran, kernet kebingungan, pengamen, dan pedagang asongan, atau siapa pun yang hidup di sini. Ya, sangat biasa! Siapa yang tahu? Tapi mungkin, di kepala seseorang yang sangat sederhana, semua akan tampak sangat berbeda. Turunnya seseorang dari bus tentu juga sudah biasa, tapi siapa sangka? Ia pun turun dari benda itu, segala macam penawaran langsung menyongsongnya, para kernet angkot, para kuli panggul, para pedagang asongan, dan sebagainya, dan sebagainya lagi. Sehingga dalam pikiran kakek yang sederhana itu tersirat,
“Betapa ramah orang-orang yang tinggal di sini! Tapi saat ini aku sedang tidak butuh bantuan mereka, aku hanya perlu menemui anakku.”
Jika di lihat dari gambaran wajah lelah itu, perjalan yang barusaja ia tempuh terlalu panjang dan melelahkan, karena itu bersandar sebentar di kursi tunggu agaknya cukup membantu melepas segala lelah. Dan hiburan, bagi orang yang belum terbiasa dengan keadaan di sini sepertinya sangat mudah ditemui, cukup dengan melayangkan pandangannya ke depan. Karena tepat di seberang jalan, terhampar sebuah taman luas, tempat sebuah rumah besar dan megah berdiri. Beberapa orang berkerumun riuh di depan pintu pagar rumah tersebut, sedangkan beberapa yang lain mencoba menghalau pergi kerumunan orang-orang itu, sungguh suatu hal yang menarik bagi kakek tua itu.
Di sebelahnya duduk seseorang yang berpakaian sangat rapi, wajahnya antara cemas dan waspada dengan sedikit bumbu ketakutan, sesekali mengintip ke seberang jalan, lalu kembali tenggelam dalam lembaran koran yang dibacanya, seakan sedang menembunyikan wajahnya dengan berita. Karena heran, sang Kakek Tua pun berguman dalam hati,
“Tampaknya orang ini tahu sesuatu, sebaiknya aku bertanya padanya …,”
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada orang itu.
“Selamat pagi juga!” jawabnya.
“Apa yang sedang dilakukan orang-orang di seberang sana?” Tanya pria tua itu lagi.
“Hal yang sudah biasa. Mereka sedang berdemonstrasi.”
Pada awalnya si Kakek merasa kebingungan dan tidak mengerti degas apa yang sedang dibicarakan pria itu, lalu dengan canggung ia bertanya lagi lebih jauh,
“ ‘Demonstrasi?’ Apa itu demonstrasi? Aku belum pernah mendengar kata itu!”
“Demonstrasi adalah kegiatan mengungkapkan perasaan yang sama bersama orang lain secara beramai-ramai.”
“Oooh…, menurutmu, mereka berdemonstrasi untuk apa?”
“Mengungkapkan perasaan kepada Wakil Rakyat!”
“ ‘Wakil Rakyat?’ ” sahut sang Kakek heran, satu lagi kata-kata yang tidak bisa ia mengerti.
“Ya, Wakil Rakyat, orang yang mewakili rakyat dalam persidangan Negara.”
“Mengapa tidak semua rakyat saja diajak bersidang? Kenapa harus pakai wakil?”
“Tentu harus pakai wakil, jumlah rakyat di Negara ini berapa juta? Jika semua diundang untuk bersidang, berapa luas tempat yang dibutuhkan? Berapa banyak makanan yang harus disediakan? Itu semua terlalu makan tempat dan banyak biaya!”
“Oooh, aku paham, jadi orang-orang berdemonstrasi di seberang jalan itu sedang mengungkapkan perasaan pada wakil mereka?”
“Ya…, tapi seorang Wakil Rakyat begitu sibuk mengurusi pekerjaannya, sehingga tak ada waktu untuk mendengar pendapat ribuan rakyat yang diwakilinya itu satu-persatu!”
“Jadi, para Wakil Rakyat itu sebenarnya mewakili rakyat yang mana? Jika pendapa yang diwakilinya saja tak pernah mereka dengar!”
“Jangan salah! Para Wakil Rakyat itu bukan wakil penyampai pendapat rakyat, tapi wakil dari jumlah rakyat yang harus hadir dalam setiap rapat dan sidang yang diadakan oleh Negara. Satu pendapat Wakil Rakyat dianggap sama, setara dan mewakili dengan pendapat beberapa ribu rakyat.”
“Ha ha ha ha…, pikiran yang lucu! Lalu, apa yang mereka persidangkan?”
“Tidak lucu! Ini tentang hal yang serius! Pembuatan Hukum.” Jawab orang itu dengan gusar karena merasa dibodohi.
“Hukum untuk siapa? Semua rakyat?”
“Ya, tentu!”
“Tapi, bukankah semua rakyat secara nyata tak pernah mengeluarkan satu pendapatpun pada pembuatan Hukum itu? Mengapa harus ditaati?”
“Itulah gunanya demonstrasi!” kata orang itu sambil bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi.
“Jadi semua itu bohong?!” seru sang Kakek dengan suara yang agak keras karena lawan bicaranya berjalan menjauh.
“Jadi, semua itu cuma kebohongan?!” serunya lagi.
“Ya…, sudah aturan!” sahutnya samar-samar terdengar.
“Ada yang hampir saya lupakan…, kita belum berkenalan!”
“Itu tidak perlu!”
“Maaf jika begitu! Tapi, siapakah anda?”
“Saya…, seorang…, Wakil,… Rakyat,…” sahut suara itu semakin samar ditelan keramaian terminal.
Agaknya ia kebingungan mendengar pengakuan pria berpakaian rapi tadi. Tapi karena cuma tinggal ia sendiri sekarang di kursi tunggu itu, sehingga dia berbicara sendiri dalam hati,
“Jadi semua itu cuma kebohongan saja? Ah aneh sekali orang-orang di sini, lucu sekali isi pikiran mereka,…”
--->@@@#@@@
Tak seberapa jauh dari terminal terdapat bangunan besar yang lain, sebuah kantor polisi. Sepi saja kantor itu, hanya ada seorang polisi jaga piket di pos jaga kecil depan kantor. Si Kakek hendak menanyakan alamat pada polisi, namun karena merasa tertarik pada orang yang tampak aneh di pos itu, sang Kakek duduk sebentar di sebuah bangku panjang di depan pos jaga piket.
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada sang Polisi.
“Selamat pagi juga!” sahutnya.
“Maaf, boleh tanya alamat ini?”
Polisi itu terdiam sebentar mengamati secarik kertas, agak terperanjat pada tujuan sang Kakek tua,
“Anda akan ke Istana Negara?! Sebuah gedung berwarna putih, tempatnya tepat di tengah kota.., tapi untuk apa anda ke sana?”
Pria tua itu tak menjawab sepatah kata pun, malah balik bertanya,
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Yang dilakukan Polisi?”
“Ya…, apa yang dilakukan oleh para Polisi?”
“Hal yang memang biasa. Sederhana saja, kami menjalankan amanat hukum!”
“Amanat hukum?”
“Ya…, kami menjaga ketertiban, keamanan dan jaminan keselamatan masyarakat dari kejahatan dan…, yah kau tahu? Hal-hal semacam itu. Semua berdasarkan hukum yang telah dibuat!”
“Menarik…, hebat sekali pekerjaan kalian! Sehingga tak ada satupun orang yang terganggu kejahatan orang lain!”
Tapi jawaban sang Polisi sangat mengagetkan pria tua itu,
“Tetap ada.” Jawabnya ringan seperti tanapa beban, entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
“ ‘Tetap ada?’ Bukankah itu sudah menjadi tugas kalian? Jadi, kalian gagal menjalankan tugas?!”
“Tentu tidak! Kami Polisi, bukan body guard. Coba pikirkan berapa jumlah masyarakat di Negara ini? Dan berapa jumlah Polisi di Negara ini? Tentu tidak cukup polisi apabila setiap satu orang dijaga oleh satu polisi. Lagipula siapa yang akan menjaga kami? Semua itu tidak cukup orang, bukan?”
“Jadi, Polisi tidak berguna? Dan pekerjaan kalian sia-sia?”
“Tidak, ukuran dari gagal atau berhasilnya pekerjaan Polisi diukur dari jumlah yang besar, bukan penjagaan orang-perorangan. Kami Polisi, bukan body guard!”
Sang Kakek terdiam sebentar tanda tak mengerti, lalu berucap dengan menghembuskan napas panjang,
“Aku tidak paham…,”
“Begini, Polisi dikatakan berhasil, jika mampu mengurangi jumlah kejahatan dari setiap seribu orang misalnya, bukan kejahatan pada setiap orang! Mereka…,”
Penjelasannya diputus oleh sang Kakek, dia sudah tahu kelanjutannya,
“,… Polisi, bukan body guard! Lalu apa yang kalian lakukan pada seseorang yang telah terkena aksi kejahatan?”
“Kami menyelidiki dan kemudian menangkap seseorang, itu tugas tambahan Polisi.”
“Bagaimana kalian tahu siapa orang yang bersalah? Dan menangkap orang itu? Jangan-jangan kalian sembarang tangkap?!”
“Polisi, tidak menangkap orang yang bersalah, tapi menangkap orang yang diduga bersalah. Dan yang menentukan kebenaran tentang dugaan bersalah itu bukan lagi urusan kami, itu urusan pengadilan!”
“Tetap saja kalian sembarang tangkap!”
Polisi itu terdiam, sang Kakek pun bertanya lagi,
“Oh ya…, jika ‘ketua’ polisi juga diduga bersalah, polisi mana yang berani menangkapnya?”
“Eemmm…, itu sudah bukan urusan polisi, tapi urusan Polisi MIliter!”
“Polisi Militer?”
“Polisi militer adalah Polisi yang menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan polisi biasa dan tentara.”
“Jika ‘ketua’ Polisi Militer diduga bersalah, siapa yang berani menangkapnya?”
Polisi piket itu terdiam lagi, membuat sang Kakek berguman pada dirinya sendiri,
“Aku bisa bertanya terus padanya, tapi jawabannya selalu berputar-putar pada lingkaran yang sempit…,”
--->@@@#@@@
Tengah sang kakek berjalan ke tengah kota, langit terasa bertambah cerah dan badanpun semakin gerah, rasa panas yang tak tertahan membuatnya berlari menuju tempat terdekat untuk berteduh. Dia membuka pintu, dilihatnya barisan orang-orang duduk di kursi-kursi panjang. Seperti gereja, tapi ini bukan gereja, ini adalah sebuah ruangan pengadilan. Dia pun duduk di salahsatu bangku, sekedar untuk berteduh.
“Selamat siang!” sapa si Pria tua pada salahsatu pengunjung persidangan ini.
“Selamat siang!” jawab pengunjung itu.
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Hal yang sangat biasa. Para Hakim, Jaksa, Pengacara, Penggugat, Saksi dan Tergugat di depan sana sedang bersidang, sedangkan kami sedang menyaksikan persidangan ini.”
“Apa yang sedang mereka persidangkan?”
“Lihat saja!” katanya.
Kakek tua itu terdiam, kemudian terlihat dua orang bertengkar hebat di depan sana.
“Kamu pasti sudah mencuri!” maki orang pertama.
“Kamu lebih dulu mengambil apa yang seharusnya menjadi hak ku!” jawab orang ke-dua dengan nada tinggi.
Sang Kakek mulai bertanya lagi,
“Apa gunanya mereka berdua mempersidangkan itu?”
“Jelas untuk mencari siapa yang salah di antara mereka berdua!”
“Mengapa harus begitu? Seharusnya mereka berdua mengoreksi diri mereka sendiri!”
“Itu terlalu rumit, tak akan ada orang yang mau mengakui kesalahannya sendiri, oleh sebab itu mereka datang ke pengadilan ini untuk bersidang, mencari siapa yang salah.”
Tiba-tiba Hakim mengetok palunya beberapa kali, tanda pengadilan akan segera dimulai. Para pengunjung yang semula riuh, dalam sekejap menjadi diam. Karena takut menggaggu, sang Kakek pun berbisik-bisik pada pengunjung tadi,
“Bagaimana cara mencari tahu siapa yang salah di antara mereka?”
“Dengan saksi.”
“Jika saksi berbohong?”
“Mereka telah disumpah untuk jujur, tentu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan!”
“Jika sudah ada Pengadilan Tuhan, mengapa bikin pengadilan sendiri?”
“Bukankah sudah kubilang? Tentu, orang selalu mencari siapa yang salah atas suatu hal.”
“Tapi, bukankah semua orang pasti punya salah?”
“Ya…, pasti. Tapi hanya salah yang memiliki bukti yang dipersidangkan di sini. Dan hanya orang yang suka mencari-cari masalah yang mau bersidang.”
“Jika bukti itu palsu?”
“Palsu atau tidaknya suatu bukti, tidak menjadi masalah bagi manusia. Karena bagi manusia, sesuatu yang yang memiliki bukti adalah hal yang paling benar.”
“Jadi, semua ini hanya bicara tentang bukti?”
“Tidak semua!”
“ ‘Tidak semua?’ Misalnya apa?”
“Misalnya: Ada Jaksa, tugas seorang jaksa adalah membela orang yang menuduh seseorang, menuntut berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi pendukung tuduhan. Dan ada juga Pengacara, tugas seorang pengacara adalah membela orang yang dituduh bersalah, membela berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi penyangkal tuduhan. Lalu Jaksa dan Pengacara berdebat hebat, siapa yang menang debat itulah yang kemungkinan besar akan menang sidang!”
“Mengapa bisa begitu?”
“Karena, keputusan tertinggi ada di tangan Hakim. setelah Hakim menyaksikan perdebatan itu, maka Hakim menentukan siapa yang bersalah?”
“Lalu, apa gunanya menentukan orang yang bersalah?”
“Menghukum orang yang dinyatakan bersalah, itulah mempertanggungjawabkan masalahnya!”
“Apa dengan begitu masalah selesai begitusaja?”
”Eemmm…, sebenarnya tidak juga. Masalah masih berlanjut, hanya saja ada orang yang dipersalahkan dan semua orang merasa puas jika ada yang dihukum serta orang orang merasa puas jika sebuah beban tidak dipikul bersama-sama.”
“Lucu sekali manusia jika begitu! Mengapa kita mencari siapa yang salah pada suatu masalah? Sedangkan semua orang pasti mempunyai kesalahan! Mengapa tidak diselesaikan saja masalah itu bersama-sama? Itu adalah sesuatu yang jelas-jelas berguna! Daripada mengikuti keinginan untuk meletakkan beban masalah pada orang lain?”
Lawan bicaranya hanya mengangkat kedua bahu, tanda ia sendiripun tidak tahu. Kakek itu pun sudah berfikir berkali-kali dengan cara berfikirnya yang sederhana,
“Betapa aneh dan lucunya cara berfikir orang-orang kota yang pintar-pintar ini.”
Sementara panas di luar semakin mereda, dan akhirnya matahari benar-benar condong, maka sang Kakek tua pergi dar sini untuk melanjutkan perjalannya dengan meninggalkan orang-orang pintar yang masih berdebat di depan sana.
--->@@@#@@@
Perjalan berlanjut lagi, sudah tak seberapa jauh dari gedung putih besar di tengah kota. Namun ada satu hal yang sedikit mengganggu pikirannya, sebuah penjara.
“Mau menjenguk siapa?” tanya penjaga penjara, tanpa salam maupun sapa.
“Selamat sore, maaf saya cuma mau tanya satu hal, jika boleh saya mau tanya banyak hal.”
“Silahkan saja! Tak banyak yang mau bicara dengan saya!”
“Apa benar gedung putih itu Istana Negara?”
“Tepat! Tapi jika mau ke Istana Negara, kenapa datang ke penjara?”
“Bukankah sudah saya bilang? Saya Cuma mau tanya, banyak hal jika diperbolehkan…,”
Penjaga penjara itu mengerenyitkan dahinya.
“Apakah orang-orang dalam penjara itu sedang mempertanggungjawabkan kesalahan mereka?”
“Hal yang terlalu biasa. Semua orang sudah tahu. Seharusnya kau juga sudah tau itu!”
“Bagaimana bisa dalam penjara mereka mempertanggungjawabkan kesalahan mereka? Seorang pembunuh misalnya, apakah mereka bisa mengganti nyawa yang telah dia hilangkan di sini? Atau nyawanya sendiri sebagai ganti?”
“Bukan seperti itu. Setiap orang menginginkan kebebasan, tapi di sini mereka kehilangan kebebasan itu. Mereka dikurung, dipaksa hidup di tempat yang sempit, mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka sukai, dan dikekang untuk tidak bisa pergi ke manapun!”
“Tuggu dulu! Sepertinya itu tidak jauh berbeda dengan biarawan. Para biarawan juga terkurung, memaksakan diri hidup di tempat sempit, memaksakan diri dengan pekerjaan yang juga tidak mereka sukai, dan bahkan juga mengekang diri untuk tidak bisa pergi kemanapun!”
“Itu jauh berbeda, nara pidana dipaksa untuk menderita, sedangkan para biarawan menderita atas kemauan mereka sendiri.”
Sang Kakek terdiam sebentar, mengamati kesibukan manusia modern yang terjebak macet di jalan raya, lalu berkata dengan masih mengamati orang-orang di jalanan,
“Bagaimana dengan orang-orang biasa yang bukan di penjara dan juga bukan di biara? Mereka juga terkurung, mereka terpaksa hidup di ruangan sempit di tengah perumahan yang padat ataupun dalam mobil sempit dan panas di tengah kemacetan, mereka juga dipaksa oleh pekerjaan yang mereka pilih sendiri, harus begini dan harus begitu dalam pekerjaan mereka, bahkan meskipun tampak bebas sesungguhnya mereka adalah orang paling terkekang, mereka tak pernah bisa pergi ke manapun sesuka hati mereka tanpa izin dari majikan, keluarga, atau siapapun itu! Lihatlah, untuk berjalanpun mereka harus dikurangi kebebasannya pada segala rambu di jalanan, bagaimana degas pajak yang harus mereka bayar untuk hidup yang selalu mereka ratapi? Lantas apa bedanya sekarang?”
“Nah itu tahu! Manusia harus tidak bebas agar memudahkan penguasa mengatur mereka, jika mereka ingin bahagia hidupnya. Justru karena terlalu bebaslah para nara pidana itu masuk penjara.”
“Ya…, tapi kebebasan adalah kebahagiaan yang sesungguhnya…,”
“Nyatanya tidak seperti itu! Pak tua yang banyak tanya, sekarang kalau boleh saya tau anda ke Istana Negara mencari siapa?”
“ ‘Mencari siapa?’ Anak saya…,”
“Anak Bapak kerja apa di Istana Negara?”
“Kata anak saya, pekerjaannya sebagai Presiden. Apa sih Presiden itu?”
Sang Penjaga penjara tercenung mendengar itu, antara percaya dan tidak percaya,
”Ini samasekali bukanlah hal yang biasa! Anda dikombinasikan dengan anak anda, bukanlah hal yang biasa.”
“Hal yang biasa? Ah kalian ini terlalu terbiasa dengan segala hal di sekitar kalian. Bahkan masalah yang tak kunjung selesai pun menjadi hal yang biasa, sehingga kalian jadi lupa untuk menyelesaikan masalah itu.”
Serang, 24 September 2014
Kepada: Bapak Presiden dan semua Aparat Negara, jangan lupakan masalah kami yang selalu menunggu untuk diselesaikan