Kamis, 02 April 2015

The Laws

The Laws




Dengan matanya yang kuyu ia menerawang jauh melihat ke sekeliling dari balik jendela kaca yang terus bergerak, pada segala hal yang mungkin saja baru dapat ia lihat untuk pertamakali dalam hidupnya, meskipun masih tampak samar. Lelaki yang menerawang jauh itu usianya sudah sangat tua, terlebih jika dilihat dari penampilan fisiknya: laki-laki berambut putih cepak penuh uban. Lengkap dengan kulitnya yang sudah keriput. Lelaki tua itu di dalam sebuah bus reot yang datang dengan terguncang-guncang. Sebagai benda tua yang berjalan terseok-seok memasuki terminal, mungkin sudah tak kuat lagi menaggung segala beban itu, akhirnya teronggoklah dia, meraung sebentar dan langsung mogok setelah berhenti dengan napas batuk tersenggal-senggal. Manusia-manusia pengisi perut benda usang itu pun berhamburan ke luar, seakan benci kepanasan di dalam benda ini atau jemu dengan rona warnanya yang memudar dan mulai berkarat di sana-sini, malah semakin tampak pudar ketika sinar pagi perlahan menerpanya.
Adalah hal yang biasa, dan bisa setiap hari ditemui, bahkan hampir tak ada hal yang menarik bagi orang-orang urban itu: para buruh yang baru pulang kerja, sopir yang mengejar setoran, kernet kebingungan, pengamen, dan pedagang asongan, atau siapa pun yang hidup di sini. Ya, sangat biasa! Siapa yang tahu? Tapi mungkin, di kepala seseorang yang sangat sederhana, semua akan tampak sangat berbeda. Turunnya seseorang dari bus tentu juga sudah biasa, tapi siapa sangka? Ia pun turun dari benda itu, segala macam penawaran langsung menyongsongnya, para kernet angkot, para kuli panggul, para pedagang asongan, dan sebagainya, dan sebagainya lagi. Sehingga  dalam pikiran kakek yang sederhana itu tersirat,
“Betapa ramah orang-orang yang tinggal di sini! Tapi saat ini aku sedang tidak butuh bantuan mereka, aku hanya perlu menemui anakku.”
Jika di lihat dari gambaran wajah lelah itu, perjalan yang barusaja ia tempuh terlalu panjang dan melelahkan, karena itu bersandar sebentar di kursi tunggu agaknya cukup membantu melepas segala lelah. Dan hiburan, bagi orang yang belum terbiasa dengan keadaan di sini sepertinya sangat mudah ditemui, cukup dengan melayangkan pandangannya ke depan. Karena tepat di seberang jalan, terhampar sebuah taman luas, tempat sebuah rumah besar dan megah berdiri. Beberapa orang berkerumun riuh di depan pintu pagar rumah tersebut, sedangkan beberapa yang lain mencoba menghalau pergi kerumunan orang-orang itu, sungguh suatu hal yang menarik bagi kakek tua itu.
Di sebelahnya duduk seseorang yang berpakaian sangat rapi, wajahnya antara cemas dan waspada dengan sedikit bumbu ketakutan, sesekali mengintip ke seberang jalan, lalu kembali tenggelam dalam lembaran koran yang dibacanya, seakan sedang menembunyikan wajahnya dengan berita. Karena  heran, sang Kakek Tua pun berguman dalam hati,
“Tampaknya orang ini tahu sesuatu, sebaiknya aku bertanya padanya …,”
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada orang itu.
“Selamat pagi juga!” jawabnya.
“Apa yang sedang dilakukan orang-orang di seberang sana?” Tanya pria tua itu lagi.
“Hal yang sudah biasa. Mereka sedang berdemonstrasi.”
Pada awalnya si Kakek merasa kebingungan dan tidak mengerti degas apa yang sedang dibicarakan pria itu, lalu dengan canggung ia bertanya lagi lebih jauh,
“ ‘Demonstrasi?’ Apa itu demonstrasi? Aku belum pernah mendengar kata itu!”
“Demonstrasi adalah kegiatan mengungkapkan perasaan yang sama bersama orang lain secara beramai-ramai.”
“Oooh…, menurutmu, mereka berdemonstrasi untuk apa?”
“Mengungkapkan perasaan kepada Wakil Rakyat!”
“ ‘Wakil Rakyat?’ ” sahut sang Kakek heran, satu lagi kata-kata yang tidak bisa ia mengerti.
“Ya, Wakil Rakyat, orang yang mewakili rakyat dalam persidangan Negara.”
“Mengapa tidak semua rakyat saja diajak bersidang? Kenapa harus pakai wakil?”
“Tentu harus pakai wakil, jumlah rakyat di Negara ini berapa juta? Jika semua diundang untuk bersidang, berapa luas tempat yang dibutuhkan? Berapa banyak makanan yang harus disediakan? Itu semua terlalu makan tempat dan banyak biaya!”
“Oooh, aku paham, jadi orang-orang berdemonstrasi di seberang jalan itu sedang mengungkapkan perasaan pada wakil mereka?”
“Ya…, tapi seorang Wakil Rakyat begitu sibuk mengurusi pekerjaannya, sehingga tak ada waktu untuk mendengar pendapat ribuan rakyat yang diwakilinya itu satu-persatu!”
“Jadi, para Wakil Rakyat itu sebenarnya mewakili rakyat yang mana? Jika pendapa yang diwakilinya saja tak pernah mereka dengar!”
“Jangan salah! Para Wakil Rakyat itu bukan wakil penyampai pendapat rakyat, tapi wakil dari jumlah rakyat yang harus hadir dalam setiap rapat dan sidang yang diadakan oleh Negara. Satu pendapat Wakil Rakyat dianggap sama, setara dan mewakili dengan pendapat beberapa ribu rakyat.”
“Ha ha ha ha…, pikiran yang lucu! Lalu, apa yang mereka persidangkan?”
“Tidak lucu! Ini tentang hal yang serius! Pembuatan Hukum.” Jawab orang itu dengan gusar karena merasa dibodohi.
“Hukum untuk siapa? Semua rakyat?”
“Ya, tentu!”
“Tapi, bukankah semua rakyat secara nyata tak pernah mengeluarkan satu pendapatpun pada pembuatan Hukum itu? Mengapa harus ditaati?”
“Itulah gunanya demonstrasi!” kata orang itu sambil bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi.
“Jadi semua itu bohong?!” seru sang Kakek dengan suara yang agak keras karena lawan bicaranya berjalan menjauh.
“Jadi, semua itu cuma kebohongan?!” serunya lagi.
“Ya…, sudah aturan!” sahutnya samar-samar terdengar.
“Ada yang hampir saya lupakan…, kita belum berkenalan!”
“Itu tidak perlu!”
“Maaf jika begitu! Tapi, siapakah anda?”
“Saya…, seorang…, Wakil,… Rakyat,…” sahut suara itu semakin samar ditelan keramaian terminal.
Agaknya ia kebingungan mendengar pengakuan pria berpakaian rapi tadi. Tapi karena cuma tinggal ia sendiri sekarang di kursi tunggu itu, sehingga dia berbicara sendiri dalam hati,
“Jadi semua itu cuma kebohongan saja? Ah aneh sekali orang-orang di sini, lucu sekali isi pikiran mereka,…”
--->@@@#@@@
Tak seberapa jauh dari terminal terdapat bangunan besar yang lain, sebuah kantor polisi. Sepi saja kantor itu, hanya ada seorang polisi jaga piket di pos jaga kecil depan kantor. Si Kakek hendak menanyakan alamat pada polisi, namun karena merasa tertarik pada orang yang tampak  aneh di pos itu, sang Kakek duduk sebentar di sebuah bangku panjang di depan pos jaga piket.
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada sang Polisi.
“Selamat pagi juga!” sahutnya.
“Maaf, boleh tanya alamat ini?”
Polisi itu terdiam sebentar mengamati secarik kertas, agak terperanjat pada tujuan sang Kakek tua,
“Anda akan ke Istana Negara?! Sebuah gedung berwarna putih, tempatnya tepat di tengah kota.., tapi untuk apa anda ke sana?”
Pria tua itu tak menjawab sepatah kata pun, malah balik bertanya,
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Yang dilakukan Polisi?”
“Ya…, apa yang dilakukan oleh para Polisi?”
“Hal yang memang biasa. Sederhana saja, kami menjalankan amanat hukum!”
“Amanat hukum?”
“Ya…, kami menjaga ketertiban, keamanan dan jaminan keselamatan masyarakat dari kejahatan dan…, yah kau tahu? Hal-hal semacam itu. Semua berdasarkan hukum yang telah dibuat!”
“Menarik…, hebat sekali pekerjaan kalian! Sehingga tak ada satupun orang yang terganggu kejahatan orang lain!”
Tapi jawaban sang Polisi sangat mengagetkan pria tua itu,
“Tetap ada.” Jawabnya ringan seperti tanapa beban, entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
“ ‘Tetap ada?’ Bukankah itu sudah menjadi tugas kalian? Jadi, kalian gagal menjalankan tugas?!”
“Tentu tidak! Kami Polisi, bukan body guard. Coba pikirkan berapa jumlah masyarakat di Negara ini? Dan berapa jumlah Polisi di Negara ini? Tentu tidak cukup polisi apabila setiap satu orang dijaga oleh satu polisi. Lagipula siapa yang akan menjaga kami? Semua itu tidak cukup orang, bukan?”
“Jadi, Polisi tidak berguna? Dan pekerjaan kalian sia-sia?”
“Tidak, ukuran dari gagal atau berhasilnya pekerjaan Polisi diukur dari jumlah yang besar, bukan penjagaan orang-perorangan. Kami Polisi, bukan body guard!”
Sang Kakek terdiam sebentar tanda tak mengerti, lalu berucap dengan menghembuskan napas panjang,
“Aku tidak paham…,”
“Begini, Polisi dikatakan berhasil, jika mampu mengurangi jumlah kejahatan dari setiap seribu orang misalnya, bukan kejahatan pada setiap orang! Mereka…,”
Penjelasannya diputus oleh sang Kakek, dia sudah tahu kelanjutannya,
“,… Polisi, bukan body guard! Lalu apa yang kalian lakukan pada seseorang yang telah terkena aksi kejahatan?”
“Kami menyelidiki dan kemudian menangkap seseorang, itu tugas tambahan Polisi.”
“Bagaimana kalian tahu siapa orang yang bersalah? Dan menangkap orang itu? Jangan-jangan kalian sembarang tangkap?!”
“Polisi, tidak menangkap orang yang bersalah, tapi menangkap orang yang diduga bersalah. Dan yang menentukan kebenaran tentang dugaan bersalah itu bukan lagi urusan kami, itu urusan pengadilan!”
“Tetap saja kalian sembarang tangkap!”
Polisi itu terdiam, sang Kakek pun bertanya lagi,
“Oh ya…, jika ‘ketua’ polisi juga diduga bersalah, polisi mana yang berani menangkapnya?”
“Eemmm…, itu sudah bukan urusan polisi, tapi urusan Polisi MIliter!”
“Polisi Militer?”
“Polisi militer adalah Polisi yang menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan polisi biasa dan tentara.”
“Jika ‘ketua’ Polisi Militer diduga bersalah, siapa yang berani menangkapnya?”
Polisi piket itu terdiam lagi, membuat sang Kakek berguman pada dirinya sendiri,
“Aku bisa bertanya terus padanya, tapi jawabannya selalu berputar-putar pada lingkaran yang sempit…,”
--->@@@#@@@
Tengah sang kakek berjalan ke tengah kota, langit terasa bertambah cerah dan badanpun semakin gerah, rasa panas yang tak tertahan membuatnya berlari menuju tempat terdekat untuk berteduh. Dia membuka pintu, dilihatnya barisan orang-orang duduk di kursi-kursi panjang. Seperti gereja, tapi ini bukan gereja, ini adalah sebuah ruangan pengadilan. Dia pun duduk di salahsatu bangku, sekedar untuk berteduh.
“Selamat siang!” sapa si Pria tua pada salahsatu pengunjung persidangan ini.
“Selamat siang!” jawab pengunjung itu.
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Hal yang sangat biasa. Para Hakim, Jaksa, Pengacara, Penggugat, Saksi dan Tergugat di depan sana sedang bersidang, sedangkan kami sedang menyaksikan persidangan ini.”
“Apa yang sedang mereka persidangkan?”
“Lihat saja!” katanya.
Kakek tua itu terdiam, kemudian terlihat dua orang bertengkar hebat di depan sana.
“Kamu pasti sudah mencuri!” maki orang pertama.
“Kamu lebih dulu mengambil apa yang seharusnya menjadi hak ku!” jawab orang ke-dua dengan nada tinggi.
Sang Kakek mulai bertanya lagi,
“Apa gunanya mereka berdua mempersidangkan itu?”
“Jelas untuk mencari siapa yang salah di antara mereka berdua!”
“Mengapa harus begitu? Seharusnya mereka berdua mengoreksi diri mereka sendiri!”
“Itu terlalu rumit, tak akan ada orang yang mau mengakui kesalahannya sendiri, oleh sebab itu mereka datang ke pengadilan ini untuk bersidang, mencari siapa yang salah.”
Tiba-tiba Hakim mengetok palunya beberapa kali, tanda pengadilan akan segera dimulai. Para pengunjung yang semula riuh, dalam sekejap menjadi diam. Karena takut menggaggu, sang Kakek pun berbisik-bisik pada pengunjung tadi,
“Bagaimana cara mencari tahu siapa yang salah di antara mereka?”
“Dengan saksi.”
“Jika saksi berbohong?”
“Mereka telah disumpah untuk jujur, tentu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan!”
“Jika sudah ada Pengadilan Tuhan, mengapa bikin pengadilan sendiri?”
“Bukankah sudah kubilang? Tentu, orang selalu mencari siapa yang salah atas suatu hal.”
“Tapi, bukankah semua orang pasti punya salah?”
“Ya…, pasti. Tapi hanya salah yang memiliki bukti yang dipersidangkan di sini. Dan hanya orang yang suka mencari-cari masalah yang mau bersidang.”
“Jika bukti itu palsu?”
“Palsu atau tidaknya suatu bukti, tidak menjadi masalah bagi manusia. Karena bagi manusia, sesuatu yang yang memiliki bukti adalah hal yang paling benar.”
“Jadi, semua ini hanya bicara tentang bukti?”
“Tidak semua!”
“ ‘Tidak semua?’ Misalnya apa?”
“Misalnya: Ada Jaksa, tugas seorang jaksa adalah membela orang yang menuduh seseorang, menuntut berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi pendukung tuduhan. Dan ada juga Pengacara, tugas seorang pengacara adalah membela orang yang dituduh bersalah, membela berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi penyangkal tuduhan. Lalu Jaksa dan Pengacara berdebat hebat, siapa yang menang debat itulah yang kemungkinan besar akan menang sidang!”
“Mengapa bisa begitu?”
“Karena, keputusan tertinggi ada di tangan Hakim. setelah Hakim menyaksikan perdebatan itu, maka Hakim menentukan siapa yang bersalah?”
“Lalu, apa gunanya menentukan orang yang bersalah?”
“Menghukum orang yang dinyatakan bersalah, itulah mempertanggungjawabkan masalahnya!”
“Apa dengan begitu masalah selesai begitusaja?”
”Eemmm…, sebenarnya tidak juga. Masalah masih berlanjut, hanya saja ada orang yang dipersalahkan dan semua orang merasa puas jika ada yang dihukum serta orang orang merasa puas jika sebuah beban tidak dipikul bersama-sama.”
“Lucu sekali manusia jika begitu! Mengapa kita mencari siapa yang salah pada suatu masalah? Sedangkan semua orang pasti mempunyai kesalahan! Mengapa tidak diselesaikan saja masalah itu bersama-sama? Itu adalah sesuatu yang jelas-jelas berguna! Daripada mengikuti keinginan untuk meletakkan beban masalah pada orang lain?”
Lawan bicaranya hanya mengangkat kedua bahu, tanda ia sendiripun tidak tahu. Kakek itu pun sudah berfikir berkali-kali dengan cara berfikirnya yang sederhana,
“Betapa aneh dan lucunya cara berfikir orang-orang kota yang pintar-pintar ini.”
 Sementara panas di luar semakin mereda, dan akhirnya matahari benar-benar condong, maka sang Kakek tua pergi dar sini untuk melanjutkan perjalannya dengan meninggalkan orang-orang pintar yang masih berdebat di depan sana.

--->@@@#@@@
Perjalan berlanjut lagi, sudah tak seberapa jauh dari gedung putih besar di tengah kota. Namun ada satu hal yang sedikit mengganggu pikirannya, sebuah penjara.
“Mau menjenguk siapa?” tanya penjaga penjara, tanpa salam maupun sapa.
“Selamat sore, maaf saya cuma mau tanya satu hal, jika boleh saya mau tanya banyak hal.”
“Silahkan saja! Tak banyak yang mau bicara dengan saya!”
“Apa benar gedung putih itu Istana Negara?”
“Tepat! Tapi jika mau ke Istana Negara, kenapa datang ke penjara?”
“Bukankah sudah saya bilang? Saya Cuma mau tanya, banyak hal jika diperbolehkan…,”
Penjaga penjara itu mengerenyitkan dahinya.
“Apakah orang-orang dalam penjara itu sedang mempertanggungjawabkan kesalahan mereka?”
“Hal yang terlalu biasa. Semua orang sudah tahu. Seharusnya kau juga sudah tau itu!”
“Bagaimana bisa dalam penjara mereka mempertanggungjawabkan kesalahan mereka? Seorang pembunuh misalnya, apakah mereka bisa mengganti nyawa yang telah dia hilangkan di sini? Atau nyawanya sendiri sebagai ganti?”
“Bukan seperti itu. Setiap orang menginginkan kebebasan, tapi di sini mereka kehilangan kebebasan itu. Mereka dikurung, dipaksa hidup di tempat yang sempit, mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka sukai, dan dikekang untuk tidak bisa pergi ke manapun!”
“Tuggu dulu! Sepertinya itu tidak jauh berbeda dengan biarawan. Para biarawan juga terkurung, memaksakan diri hidup di tempat sempit, memaksakan diri dengan pekerjaan yang juga tidak mereka sukai, dan bahkan juga mengekang diri untuk tidak bisa pergi kemanapun!”
“Itu jauh berbeda, nara pidana dipaksa untuk menderita, sedangkan para biarawan menderita atas kemauan mereka sendiri.”
Sang Kakek terdiam sebentar, mengamati kesibukan manusia modern yang terjebak macet di jalan raya, lalu berkata dengan masih mengamati orang-orang di jalanan,
“Bagaimana dengan orang-orang biasa yang bukan di penjara dan juga bukan di biara? Mereka juga terkurung, mereka terpaksa hidup di ruangan sempit di tengah perumahan yang padat ataupun dalam mobil sempit dan panas di tengah kemacetan, mereka juga dipaksa oleh pekerjaan yang mereka pilih sendiri, harus begini dan harus begitu dalam pekerjaan mereka, bahkan meskipun tampak bebas sesungguhnya mereka adalah orang paling terkekang, mereka tak pernah bisa pergi ke manapun sesuka hati mereka tanpa izin dari majikan, keluarga, atau siapapun itu! Lihatlah, untuk berjalanpun mereka harus dikurangi kebebasannya pada segala rambu di jalanan, bagaimana degas pajak yang harus mereka bayar untuk hidup yang selalu mereka ratapi? Lantas apa bedanya sekarang?”
“Nah itu tahu! Manusia harus tidak bebas agar memudahkan penguasa mengatur mereka, jika mereka ingin bahagia hidupnya. Justru karena terlalu bebaslah para nara pidana itu masuk penjara.”
“Ya…, tapi kebebasan adalah kebahagiaan yang sesungguhnya…,”
“Nyatanya tidak seperti itu! Pak tua yang banyak tanya, sekarang kalau boleh saya tau anda ke Istana Negara mencari siapa?”
“ ‘Mencari siapa?’ Anak saya…,”
“Anak Bapak kerja apa di Istana Negara?”
“Kata anak saya, pekerjaannya sebagai Presiden. Apa sih Presiden itu?”
Sang Penjaga penjara tercenung mendengar itu, antara percaya dan tidak percaya,
”Ini samasekali bukanlah hal yang biasa! Anda dikombinasikan dengan anak anda, bukanlah hal yang biasa.”
“Hal yang biasa? Ah kalian ini terlalu terbiasa dengan segala hal di sekitar kalian. Bahkan masalah yang tak kunjung selesai pun menjadi hal yang biasa, sehingga kalian jadi lupa untuk menyelesaikan masalah itu.”
Serang, 24 September 2014
Kepada: Bapak Presiden dan semua Aparat Negara, jangan lupakan masalah kami yang selalu menunggu untuk diselesaikan

Cintaku Berawal Dari Facebook

Cintaku Berawal Dari Facebook



Hari ini hari minggu, yaitu hari yang banyak di tunggu-tunggu bagi anak muda zaman sekarang. Tapi tidak denganku, semenjak dia meninggalkanku demi cewek lain, maksudku mantan kekasihku Devid namanya. Seorang cowok yang pernah menjadi sebagian dari hidupku dulu, tak aku sangka cintanya padaku dulu hanya sekedar omong kosong, padahal aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri, Apapun kulakukan untuknya dan berkorban untuknya tetapi balasanya hanya penghianatan, Jujur hanya penyesalan yang kini ada di hatiku, Oh tuhan… hapus dia dari ingatanku, aku benci mengingatnya, benci pada semua yang ada pada dirinya.
Tiba-tiba fikiranku tertuju pada akun Facebookku yang sudah lumayan lama gak pernah ku buka, tak usah berfikir panjang aku pun segera mengambil jacket levis abu-abuku dan segera merapikan rambutku yang semula berantkan, aku segera keluar rumah dan menstater sepeda motor maticKu menuju warnet yang berjarak sekitar 1 km dari rumahku, pada saat itu tidak ada orang sama sekali di rumah, ayah dan bunda lagi ke rumah Om dan kakak perempuanku sedang kencan sama pacarnya, jadi lebih leluasa aku pergi tanpa pamit ke mereka.
Tak lama kemudian akhirnya sampai juga aku di sebuah warnet “Heaven Net” aku segera masuk dan kebetulan ada satu tempat yang kosong, aku duduk di tempat nomer 9, segera aku buka akun Facebookku yang sudah lama tak pernah ku buka, rasanya udah rindu pengen chatting sama teman-teman Facebook.
Aku buka pesan di Facebookku, ada 4 inbox yang belum terbaca, Dan kebetulan keempatnya ingin mengajak kenalan, Tapi aku hanya tertarik pada sebuah facebook yang bernama ARJUNA PRANATA dia hanya mengirim pesan “hy?”. aku buka kronologi pria itu dan aku lihat fotonya, dia lumayan tampan dan yang tidak ku sangka dia bersekolah di SMKN 2, yang berarti dia satu sekolah dengan mantanku Devid, rasa ingin membalas inbox itu semakin bertambah, dan akhirnya aku balas inbox itu “hy jg!! cpa iia?” dan segera ku kirim tak lama kemudian dia membalas inboxku “aku juna, boleh kenalan gak?” aku segera membalasnya lagi ”Juna anak mna? Boleh aja knpa enggk.. :)” ku tekan tombol enter untuk mengirimnya, beberapa detik kemudian dia membalas “syukur dech kalo” mau kenalan ^_^, nma qm cpa?” aku kembali membalas “Aku Inez ^_^” dan itu berlangsung lumayan lama hingga akhirnya dia meminta nomer HP ku dan aku pun memberinya nomer HPku, pada saat itu aku hanya ingin mencari teman cowok yah sekedar untuk menemani hari-hariku yang kesepian dengan sebuah smsnya agar aku bisa melupakan Devid, tetapi aku salah ternyata sekian lama kita smsan teleponan akhirnya dia pun mengajakku bertemu di sebuah warnet yang tempatnya tepat di depan sekolahnya, aku pun juga penasaran dengan wajah asli pria yang memiliki akun facebook yang bernama ARJUNA PRANATA itu, akirnya akupun mau menemuinya di warnet itu.
Aku datang kesana bersama temanku, amy namanya, tapi saat aku sampai disana dia belum datang, aku putuskan untuk duduk terlebih dulu tanpa menunggunya, aku duduk di nomer 6 dan amy di nomer 7, aku coba sms dia kenapa dia belum datang, dan dia membalas dia akan menemuiku pada saat jam istirahat yaitu setengah 10, tapi saat itu jam menunjukkan jam 9 lebih seperempat.
Aku menunggunya dengan membuka vidio-video drama korea, aku memang sangat menyukai film-film yang berbau korea, beberapa menit kemudian ada pesan masuk di Hpku, ternyata dari juna “kamu di nomer berapa dek?” memang panggilan itu sering dia ucapkan padaku di telfon ataupun di sms, segera aku balas smsnya “nomer 6” belum ada laporan terkirim di Hpku dan aku kira pun Sms itu belum masuk, aku tenang-tenang saja, tapi saat itu juga ada seorang pria yang berdiri tepat di balik komputer yang ada di depanku, dia memberi senyuman padaku tapi aku hanya melongo. segera aku balas senyumannya, aku yakin dia pasti juna, dia sembari menanyaiku “Inez ya..?” tanyanya padaku, “iya kamu juna kan?” balasku “betul sekali” jawabnya dengan senyum yang merekah di bibir merahnya itu, ya ampuun senyumnya manis banget jantung ini berdetak begitu cepat seperti mau copot, oh tuhan apakah dia adalah pangeran langit yang kau turunkan untuk ku, Ah semua hanya hayalku tak mungkin seseorang yang begitu tampan ini bisa menjadi milikku “Huh” dengusku pelan.
Tapi dugaanku salah,sampai pada suatu hari dia mengajakku kencan untuk yang pertama kalinya, aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, aku pun menerima ajakanya.
Akhirnya aku pun pergi berdua denganya, aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini sama juna, memeluknya dari belakang saat dia memboncengku, sejenak aku bisa melupakan mantanku yang semula masih kental di memory ingatanku.
Kami berhenti di suatu tempat yang banyak di kunjungi banyak remaja, tak ada rumah hanya pepohonan berbaris baris udaranya sangat dingin. Tetapi mungkin perbedaan mereka sebagai sepasang kekasih tetapi tidak dengan ku dan juna, Just friend.
Aku duduk di sebuah gerdu kecil dan dia menyusul duduk di sampingku, dia memulai perbincangan kami. aku berandai andai, andaikan saja saat ini dia nembak aku, mungkin lengkap sudah kebahagiaanku hari ini, belum berhenti aku berandai andai tiba-tiba juna memandangku dia memegang kedua tanganku, aku sempat tak percaya kalau ini kenyataan aku kira mimpi, ya ampun betapa gembiranya hati ini dia menyatakan perasaannya kalau dia sayang aku dan ingin menjadi pacarku.
Tapi aku tak langsung menerimanya, aku berikan dia satu persyaratan “kalau” kamu memang bener-bener sayang aku dan pengen jadi pacarku aku mau kamu cariin aku bunga mawar putih berduri 100” dia pun mengiyakanya.
Dalam perjalanan pulang aku merasa sangat kedinginan saat di boncengnya, tapi dingin itu berubah menjadi rasa sejuk yang nikmatnya sampai ke relung hati saat dia memegang jemari tanganku, rasanya tak ingin waktu berlalu begitu saja.
Waktu berlalu begitu cepat, 1 minggu setelah kencan pertama itu dia kembali menghubungiku dia berkata sudah dapat bunga yang aku mau, akhinya aku putuskan untuk bertemu denganya di suatu tempat.
Aku menemuinya di salah satu tempat yang mengandung nilai sejarah. Saat aku sampai disana ku lihat di sekelilingku tapi aku tak menemuinya, tak lama kemudian dia sampai di tempat itu dia menemuiku dan membawa bunga mawar putih yang aku inginkan, aku menatapnya dan dia juga menatapku, diam seribu bahasa, tak lama kemudian dia memulai pembicaraan “Gimana, udah resmi kan..?” katanya tersenyum sambil melirikku aku hanya tersenyum tipis sambil melihatnya.
Kami duduk bersandingan di pinggir kolam segaran yang terkenal sejarahnya itu, tidak banyak ucapan yang keluar dari mulut kami berdua jadi terasa sedikit canggung, yah mungkin karena belum terbiasa saja, hemm…
Ku buka lembaran baru dan merobek lembaran lamaku…
Ku buka hatiku tuk cinta baruku dan ku tutup rapat-rapat kenangan masalaluku yang kelam…

FACEBOOK IS MY LOVE

FACEBOOK IS MY LOVE

                Berawal dari facebook , bermula dalam komunitas yang ngetrend untuk saat ini , menjumpai banyak orang di facebook , bahkan dapat menjadi pacar maupun teman dekat . berawal pula saat aku mengenal banyak orang yang akhirnya menjadi teman baik yang dapat menampung semua isi cerita hidupku , walaupun hanya sekedar dunia maya tapi dapat membuatku lega karena saat ada masalah aku selalu curhat dalam facebook . entah lewat status , wall , maupun pesan. Dan terakhir fbku aku namai dengan nama ” Meysilvee Princess Jeleqq” . padahal nama asliku adalah silvi niamey prisa
            Sangat banyak teman yang ada dalam daftar teman di facebookku , teman di facebook ada yang enak di ajak curhat dan ada juga yang sebaliknya,memang semua ada dampak positif dan dampak negatif  . pertama punya facebook aku tak pernah putus untuk online walaupun hanya online lewat handphone.
            Suatu saat aku mengomentari status rhega , dan yang mengomentari bukan hanya aku , ada teman regha yang mengomentari , dalam status rhega aku dan teman – teman rhega saling ejek – mengejek , karena terlalu asyik , maka akupun penasaran dengan nama fb yang kelihatannya seru saat mengomentari status regha , nama fbnya adalah Triatmadja Ituujuga Aji . rasa penasaranku membuatku membuka profilnya , dan entah mengapa aku langsung mengundang dia untuk mmenjadi temanku .
            Selang beberapa hari saat aku membuka fb , aku melihat ada laporan bahwa akun sudah di terima menjadi temannya , dan temanku hari itu bertambah satu . kedekatanku dan sebut saja namanya aji karena aku dan aji sering mengomentari status rhega dan juga status temanku yang satunya yang bernama westy . saat mengomentari status aku dan aji slalu bercanda dan saling ejek – mengejek . pokoknya seru karena dapat bergabung dan bercanda dengan aji , walaupun aku belum tahu bagaimana parasnya aji.
            Dalam hitungan hari , bahkan dalam hitungan minggu aku sehari – hari selalu tak pernah berhenti saling mengejek dan bercanda dengan aji m, kita sama seperti seorang sahabat yang telah lama kenal , dan seperti tak sudah mengenali sifat sama lain , hingga suatu saat aji meminta nomer hp.ku .
            Aku dan aji pun smsan , kita sama seperti biasanya katrena dealam smsan aku dan dia selalu saling ejek ,k memang seru mempunyai teman yang bisa menghibur diri kita , tak hanya saling mengejek , aku dan aji juga sering cerita tentang gebetan yang di incar namun tak pernah di dapatkan.
           
‘’ aku sebenarnya mempunyai cewek incaran , namun sayangnya sedikitpun aku gak diberi kesempatan sama dia , mungkin aku terlalu jelek yya , hahaha “ kata aji curhat kepadaku
“kamu memang jelek kok . hehehe ( bercanda denk ) , yyah , kamu sama dengan aku , aku juga punya cowok inceran , tau gak siih , cowok inceranku itu tajir , ganteng , pokoknya aku banget ji , tapi sayang dia gak respec sama aku . T_T “ ceritaku ki aji
“ hahaha , sama kamu juga jelek makanya cowok inceranmu itu gak tahu kalau kamu suka sama dia , kamu jelek sih . ngelirikpun ogah . heheh “
‘‘wah menghna kamu ,

            Obrolankupun selalu berlangsung seperti itu , memang aku akui aji itu enak di ajak curhat tapi kalau ngejek bikin kesel dikit , walaupun terkadang aku juga keterlaluan kalau ngejek dia . tapi tak apalah , nbamanya juga teman , pasti menerima kekurangan masing – masing.
            Waktu berjalan sangat cepat , hari – hariku terlewti dengan selalu bercerita dengan aji , aji juga tak kalah , dia selalu cerita banyak kepadaku , dia selalu cerita tentang cewek incerannya . dia juga cerita tentang dirinya dan keluarganya .
            Aji tinggal dengan kakaknya karena orang tuanya telah tiada , aku sempat terharu melihat perjalanan hidup aji yang menurutku tak bisa aku lewati bila aku berada di posisinya , terlalu sulit takdirnya . dan hingga sampai pada cerita dia ternyata selalu meminum minunan keras , aji tidak hanya sekali maupun dua kali , dia bahkan sudah dapat di bilang ketagihan dan tergantung dengan minuman haram itu , aku tak tahu apa penyababnya dan aku juga tak berani bertanya lebih jauh tantang permasalahan ini karena aku takut menyinggung perasaanya.
Drrt ... drrrt .....
Segera aku membuka isi pesan yangbbaru saja masuk dalam hpku l, ku lihat sekilas tertulis nama aji yang mengsms aku , dan aku sempat terkejut karena isi pesan aji memanggil aku dengan sebutan yang gak biasanya karena dia memanggil aku dengan panggilan sayang seperti orang pacaran (bheb) , akupun segera membalas  dengan sms yang sama , karena ku pikir aji hanya bercanda, karena itu akupun ikut – ikutan memanggik dia seperti itu.
Lama sudah aku memanggil dengan sebutan seperti orang pacaran padahal status kita bukanlah pacaran tapi teman biasa  yang saling menemani saat tak ada yang menemani . dean tanpa sadar aku dan aji merasakan hal yang seperti orang pacaran , aku dan aji merasakan bahwa kita ini adalah saling suka , saling cinta , dan nyaman dengan obrolan kita.
Aku dan ajipun resmi pacaran , kita juga mencantumkan status pacar masing – masing di fb . rasa senang menggelayuti kita berdua , banyak komenan tentang status hubungan kita , dan aku juga tersadar bahwa aku telah menyadarkan aji untuk tidak meminum minunan keras lagi ,dan hasilnya aji tak menyangka bahwa perlahan – lahan  dirinya telah terlepas dari minum – minuman itu , aku merasa bangga karena aku bisa mencegahnya dan akhirnyapun kembali kepadaku juga karena aku bisa memilikinya selamanya
Memang sulit membuat seseorang itu berubah , apalagi itu sudah menjadi kebiasaan , namun karena cinta semua dapat berubah , sekalipun itu kebiasaan . dan berawal dari facebook akupun dapat memiliki dia dan aku juga mendapat pelajaran berharga bahwa menyadarkan adalah lebih baik dareipada membiarkan.

MMPI DI EMBUN PAGI


                                                                    MMPI DI EMBUN PAGI


Bagaimana aku dapat menghibur hatiku sejak berpisah dengan nya  sedangkan sepanjang masa aku selalu mencintai nya.
Hari perpisahan rasa nya lebih panjang dari kiamat dan kematian akibat sakit nya perpisahan lebih mudah terjadi, inilah kata kata yang selalu terlontar dari bibir ku, di
Masa aku merasakan pahit nya cinta.
Waktu  terus berjalan dan hari telah berganti hari bahkan bulan pun telah berganti,
Namun mengapa bayangan diri nya masih saja terlintas dalam fikiran ku, ku bert anya pada sepi.
“apakah aku tidak bisa melupakan dirinya?” namun kebisuan yang ku dapatkan, kakak ku menjawab sambil menghampiriku
“kamu bisa saja melupakan dia, asalkan ada pengganti dalam hati kamu.” Ku melontarkan pertanyaan berikutnya
“siapa yang mau singgah di hati ini lagi kak? Sedangkan adik hanyalah seorang wanita biasa.”
“cukup dik.” Kakak langsung memutong perkataanku dan ia berkata
“kakak yakin, pasti ada orang yang masih mencintai kamu dan berharap untuk bisa mendapatkan hatimu.” Itulah yang dilontarkan oleh kakak ku, karena aku hanya tersipu dan membisu kakak melanjutkan kembali ucapannya.
“dunia ini berputar, jika sekarang kamu merasakan kesedihan maka kamu pasti akan mendapat kan kebahagiaan kelak.”

Malam semakin hening, bulan bersembunyi dibalik awan, kekelapan mendatangkang suasana hati yang mencekam. Setelah ku mengingat semua kata-kata kakak ku, ku menjadi sadar dan kini ku telah menemukan lentera, ku mempunyai cita-cita untuk menggapainya meskipun cahaya itu hanya sebesar cahaya kunang-kunang yang menari-nari.

Dunia terus berputar secara perlahan-lahan, dan perjalanan waktu sangatlah singkat hingga tiadaku rasa dan ku duga sudah tiga bulan lamanya ku berpisah dengan dirinya,meskipun bayangannya masih terlintas dalam benakku, namun ku yakin kalau suatu saat nanti aku pasti bisa melupakan dirinya.

Hari demi hari, detik demi deti, kakiku melangkah tampa tujuan anganku melayang tanpa hayalan, dan diriku hanyalah di sertai oleh sepi, dan disitu juga langkahku yang gontai membawaku kepada orang yang tulus mencintai dan menyayangiku apa adanya, ia mengungkapkan semua isi hatinya dihadapan ku, dan pada saat itu ku tak bisa berkutik karna yang ku pikirkan hanyalah ucapan kakak ku yakni
“ dunia pasti berputar, di mana ada kesedihan di ada kebahagiaan.”
Memang benar bayangan orang yang aku  cintai selalu hadir membangunkan tidur ku, memang cinta sebagai penghalang darinya dan kenyataan cinta yang ber akhir bahagia.

Memang benar pepatah mengatakan, kalau cinta merasuk dalam hatiyang begitu dalam bayangan kekasih ketika tidur pun membuat nya ia terbangun.
Dan dengan datang nya perasaan ini, aku bisa melupakan mantan kekasihku secara perlahan, mantan kekasih yangf telah menyakitkan hati,ku yakin bahkan ku sangat yakin dimana ada empedu pasti disitu ada madu.
Ketika ku memandang raut sinar wajah nya  yang membuat hatiku berbunga-bunga seolah ada kekuatan ghaib yang mengilhami jiwaku untuk menjauhi keriuhan dunia maya ku.jiwa mudaku seakan    belum pernah merasakan madu asmara yang kini mengusik jiwa, manisnya terasa nikmat dan menggairahkan,rasa yang menyapaku bagai semilir angin yang menyejukkan dan melena kanku, seolah ku terbuai dan ku terbiusmemandang seluruh isi alam semesta.

Diriku sangat bersyukurkepada tuhan yang maha esakarena telah di hadirkan cinta dalam lubuk hatiku dan telah mengisi hatiku dan angan ku dengan nama dan bayangan nya,dan ku sangat ber harap tuk bisa memilikinya suatu saat nanti.

Barisan kata yanng ia persembahkan untukku,menebarkan beribu rasa yanng mendalam,dan menebarkan berjuta harapandi dalam angan yang tak akan pernah musnah dalam benakku  memendam cinta yang sangat dalam, ingin ku ungkapkan  semuanya yang ada dalam lubuk hati ku namun apalah daya ku merasa malu untuk menjawab semua itu, kuhanya bisa memendam dalam hati yang tak ber duri, hingga membuat bulan  dan  bintang ikut menangis  hingga membuat bulan  dan  bintang ikut menangis meratapi hati di saat tergores oleh dusta cinta, dan bulan serta bintang juga ikut tersenyum bahagia dikala melihat ku bersama dengan dirinya

Kini diriku terlarut dalam dinginnya malam, terhangat dalam pelukan hatinya, semua itu takkan pernah aku lupakan saat pertama kali ku memandang wajahnya yang bersinar terang dan penuh deng an kasih sayang dan ketulusan yang mendalam.
“dirimu yang selalu ku sayang, semuga mimpi yang indah menemani tidurmu di malam-malam yang sunyi, kini ku hanya bisa berdo’a pada tuhan yang maha esa, semuga ada malaikat yang akan menemani dan menjagamu dari iblis yang akan mengganggumu, ku tak rela bila kau pergi dari jiwa dan ragaku, karena dirimu adalah orang yang aku sayangi dan yang ku impikan.” Kata-kata ini selalu ku ingat  dan ku kenang entah kenapa dan mengapa hatiku terasa bahagia bila membaca semua sms darinya.ku selallu berkhayal tiada henti, namun semua nya pasti hanya akan menjadi mimpi.

Lantunan suara-suara adzan telah di perdengarkan, maghrib telah berlalu dan kini telah tiba waktu isyak, alunan merdu suara adzan isyak di perdengarkan serta berbarengan dengan deringan hp ku, ternyata setelah aku lihat dirinya yang menilfon ku, diriku  tersipu malu,namun hatiku merasa bahagia yang sanngat,seakan aku menemukan cahaya di dalam hati yang telah lama kelam, ku angkat telfon darinyadengan tangan bergetar dan detak jantungku berdetak kencang,ternyata ia hanya menanyakan kalau aku sudah shlat apa belum?awlnya.ku hanya menjawab dengan malu.
“ini aku masih mau shalat, bentar ya………. Aku shalat dulu.”
“ya….sudah shalat dulu, tapi telfon nya jangan di tutup ya…..” jawab nya
“oke aku gak akan tutup telfon dari mu.”jawab ku sambil memakai ruku, waktu aku shalatdan aku sudah dua kali sujud dia memberi peringatan terhadap ku dan berkata.
“kalau shalat yang khusu’ tapi jangan ngusu’.”waktu itu hp aku di lonspiker,jadi aku mendengar semua perkataannya,aku hanya metersenyum mendengar semua itu.
Aku yakin bahwa bahwa kesucian cinta yang akan membuat dirikuter seret dalam riuh nya bahagia.

Semilir angin,dan ratapan air hujan mengalirdi halaman rumah ku,ku merenung dibawah alunan syahdu derasnya air hujan,ku selalu berkhayal namun aku takut semua khayalan ku hanya menjadikenyataan yang palsu,kuselalu berfikir namun aku takut semua fikiran ku itu hanya akan menjadi mimpi yang tak akan pernah bisa terjadi.

Kiniku sangat merindukan dirinya yang sekarang ini jauh entah dimana,ku ingin merasakan hangat pelukan kasihnya dan aku sangat ingin ia kembali untukku, namun akku tidak tahu entah sampai kapan aku mamandam semua jawabanini terhadapnya,aku ingin katakan kepadanyabahwa aku juga sangat mencintai dirinya,ku sangat menyesal karena waktu dia menyatakan perasaan nya terhadap kuaku tidak langsung menjawab kalau aku juga mencintai nya.

Dinginnya hembusan gayuh telah mendatangkanriuh dalam hatiku,hatiku yang awalnya tenang,tentram,dan bahagia kini kembali gundah karena dawai asmaradari cintanyayang singgah dalam hati ini,kakiku melaangkah tiada henti dan tanpa tujuan.anganku melayang kemana-manaseakan-akan aku gila hanya karena mencintai dirnya.

Ku langkahkan kakiku pada semua arah,ku bertemu dengan angin ku bertanya kapadanya,kubertemu dengan pepohonan ku bertnya, ku menatap langit berkabut, dan yang terahir ku bertanya kepada yang berkuasa tentang rindu yang ku pendam pada dirinya. namun semua itu hanyalah kebisuan yang ku dapati semuanya tidak memberikan jawaban pasti.

Alunan lagu merdu berbisik di dinding rumahku, bintang kemintang berkedipan menghiasi cakrawala menutupi gelapnya malam, angin berhembusan menghempas kesedihan dalam hati, bulan yang awlnya tersenyum dengan senyuman yang bersinar indah dan terang kini menjadi suram tertutupi oleh kabut.

Begitu pula dengan hatiku kini telah suram kembali karna menanti kehadiran dirinya yang entah kemana ia pergi tanpa ada orang yang tau, ku sesali semua yang terjadi namun kini semuanya hanyalah tingal kenangan dan penyesalan.

Nafasku bagai semilir angin yang tak tau arah detak jantungku bagaikan geluduk yang bergaum dalam hati, ku melangkah tampa henti untuk mencari tau keberadaan dirinya, ku hubungin lewat hp namun tak berguna ku coba datangi kerumahnya namun tiada yang tau kemana ia pergi, ku bingung harus kemana lagi ku langkah kaki ini, rasanya berat untuk ku lambaiakan tangan ini, gak tau kenapa? Mungkin di telapak tangan ini juga ada rasa rindu ingin membelai dan memeluknya.

Keesokan harinya, mungkin kakak tak tega melihatku selalu merennung di kelabuhi rasa duka lara, ia mengajakku kesuatu tempat, dan tempat itu ada danau yang sangat dalam, dia menyuruhku berteriak diatas jempatan danau itu agar semua kesedihanku hilang, akan tetapi semua itu hanya berguna sesaat, ku teringat lagi akan indah sinar wajahnya dan senyum manisnya yang meggoda setiap wanita yang kenal dengannya.

Sungguh aku tIdak mengerti apa artinya  cinta banyak yang mersakan di cintai dan mencintai bahkan semua umat manusia mersakan dengan cinta, banyak pula orang mengatakan cinta itu buta, cinta itu anugrah dan cinta itu laknat, ku juga tak mengerti mengapa banyak orng yang bermain cinta padahal menurutku cinta  itu hanya membuat kita sedih apabila orang yang kita cintai tidak bisa kita miliki untuk selamanya.

Sangatlah banyak orang bilang jika kita mencintai seseorang kita tak harus memlikinya, karna jika kita melihat ia bahagia kita juga akan bahagia, menurutku itu semua bohong, mungkin kita itu terlihat bahagia dan tersenyum dengan indah, namun hati kita menangis terluka seakan tergores oleh dusta cinta.                
           


LEPAS GENGGAMAN




LEPAS GENGGAMAN
Di pagi yang cerah matahari muncul dengan sinarnya yang begitu indah, burung-burung pun bernyanyi riang dengan kicauan yang syahdu, dan di pagi itu ku mencoba bertanya pada burung, namun sungguh tiada kumengerti karena jawaban yang kutemui hanyalah kebisuan belaka pada akhirnya aku bertanya pada angin yang bersemilir, tapi yang aku dapatkan hanyalah kebingungan.
            Waktu terus berputar dan matahari semakin meninggi di atas atap rumahku, namun aku masih tetap saja duduk termenung sendirian, tiba-tiba terdengar suara di belakangku, aku terkejut mendengar suara-suara itu, lula aku menolehnya kebelakang, ternyata di belakangku ada seorang yang memperhatikan sikapku lalu orang itu bertanya padaku
            “kenapa aku perhatiin dari tadi kamu bengung sendiriaan disitu?” tapi aku tak menjawab sepatah katapun dari pertanyaannya, aku tetap saja diam dan membisu, pada ahirnya orang itu bertanya lagi.
            “apa kamu lagi punya masalah ?”
            “tidak,” jawabku berbohong.
            Keadaan semakin henning, hembusan angin semakin kencang menerpa tubuhku, orang itu tetap saja duduk disampingku, lalu berkata
“kalau kamu punya masalah jangan dipendam sendirian, nanti kamu bisa stres,” katanya dengan nada peringatan.
“sesungguhnya selama ini aku telah memendam cinta dalam hati yang tak dapat aku tuangkan kedalam lautan.” Jawabku
Pada saat itu pula aku titipkan salam pada angin yang menerpa, menghantarkan kedinginan yang menyelinap dalam ruang telingaku. Hatiku kesepian jika tak mendengar suaranya,jia ku gelisah jika ia jauh dariku,dalam hati ini selalu terbayang indah  senyum manisnya,ingin rasanya aku datang untuk memeluk dia sampai aku bisa merasakan kehangatanserta mengucapkan seuntai katadari lubuk hati yang paling dalam bahwa diriku sangat mencintai nya.
Kenapa mataku sangat sulit untukk aku pejamkanbila dirinya tiada di sisiku,jiwa oini selalu resah dan gelisah bila sedetik aku tak melihat wajahnya,kenapa hari-hariku menjadi sunyi mencekam bila indah suaranya tiad tergiang di telingaku,mengapa hidupku seperti tiada arti lagi bila dirinya tidak akan aku miliki.
Andai waktu yng aku punya dan syair-syair rindu yang aku jubah dapat aku titipkan  lewat hembusan angin maka lihatlah betapa remuk redam hatiku ini karena meng harapkan kehadiran dirinya.
Setiap aku memandang la ngit ku bayangkandia hadir di depanku,ku tatap wajahnya lewt desah nya yang bisu dan seolah aku terbawa pada pesona matanya yang memberiku selaksa ceria dan di manapun aku  berada suaranya selalu termani aku,kemanapun aku pergi bayanganmya selalu menghantui,bagiku bersamanya adalah sebuah keindahan yang tak bisa aku nuktahkan dalam gambaran apapun.
“kau dewiku,dirimu selaksa bidadari yang selalu tamani langkahku.dari sekian banyak wanita yang aku kenal hanya dirimu yang ada dalam hatiku,sudikah kiranya kau memberi kesempatanpadaku untuk mencintai mu?”ucapannya sebulan yang lalu.
Aku tak sanggup berucap sepatah katapun dari pertanyaannya,aku hanya bisa berlari sambil tersenyum meninggalkannya.
Sepinya malam menyeret lamunanku tak tertuju pada yang lain hanya kata-kata dia yang menjelma dalam fikiranku seribu hembusan angin membawa kabar gembira,seribu getaran yang ada di jiwa membawa simponi tanda cinta.namun masihkah dia balaskan atas tulusnya cintaku padanya yang semakin menjadi di lubuk hatiku.
Bila senja mulai memerah,senja pun beranjak mulai terukir  sebuah rasa yang tak di duga,itu adalah sebuah kerinduhan yang mengikis  pantai hatiku.
Angin mulai mengepul kencang di saat aku tergeletak kaku diatas ranjang, namun mataku belum juga bisa kupejamkan, entah karena apa malam itu aku belum juga bisa untuk memejamkan mata, wajah dan kata-kata dia selalu menghantui perasaanku.
Kini hari-hari telah lewat bahkan satu bulanpun telah berlalu aku tak menemukan kembali sosok pria itu, kemanakah dia menghilang tiada kabar berita, mengapa dia pergi disaat aku menyayanginya.
“apakah aku telah menggores luka dalam hatinya?”
Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta mersa sendirian, tiada memiliki siapa-siapa kecuali foto yang pernah ia berkan padaku yang setiap saat ku pandangi dan tak rela debu menghinggapinya.
Kau orang yang pertma datang memberikan simpati dan kasih sayang bahkan cinta jiwa, ragamu. Aku tau kau menitesakn air mata yang tak kan pernah habis meski di telan masa
Semua ini salahku, mengapa aku dulu terlalu bodoh dan tak punya keberanian untuk mengungkapkan rasa cintaku padanya, aku tak tau bagaimana harus mengatakan yang aku rasakan, aku selalu mengingatnya bahkan merindukannya.
Dikala daun yang terahir lepas melayang jatuh kebumi suatu saat senja kemarau lalu terjadi putuslah sudah rantai kasih yang telah kita jalani bersama, sejak tujuh belas purnama yang lalu seiring berahirnya tahun ini.
Dulu aku sangat terpaksa mengenal cinta, tapi kini disaat aku berenang didalamnya sungguh kau membuatku murka dan kini jiwaku lenyap terombang ambing oleh musim dan peristiwa.

TETESAN AIR MATA DIBALIK RAHASIA



Cepen by : Nurul Sholehuddin                                                                     
TETESAN AIR MATA DIBALIK RAHASIA
                Aku mulai menulis sebuah Cerpen perjalanan hidupku ini dengan menyebut Bismillah, Ya Rahman Ya Rahim, selontaran ayat ini semoga hari-hariku menjadi  hari yang begitu sempurna.
                Aku menulis untuk selalu menjadi sejarah kenangan dimasa kecilku, mengingat Khumairoh hingga apa bila suatu hari nanti tuhan menyatukan kami, aku dapat menjadikan cerpen ini sebagai rekaman cintaku yang sangat demikian besar.
                Ya,Rahman, jadikan aku nafas diantara nafasnya. Jika aku mengingatnya setiap detik bersamanya merasakn degub jantug yang menyebut namanya seperti nikmat dzikir kepada-Mu, aku sering bersamanya, dan saling bercanda tawa. Saat itu dia pernah mengatakan sebuah kalimat yang seakan terlontar kata tanpa sengaja, kalimat indah yang menjadi ikrar dari perjalanan hidupku.
                “ Mas, kalau nanti sudah semakin dewasa jadi orang yang pandai mengajikan ? kata ustadz yang paling baik adalah yang membaca al-qur’an, Khumairoh ingin Mas menjadi orang yang baik dan selalu dekat denganku sekaligus menjadi imamku (jodohku) aku sayang kamu Mas “
                Mata kecilnya menatapku seakan – akan ada butir air mata yang akan mengalir, matanya yang begitu sempurna menakjubkan hati ini namun aku tak bisa mengatakn apapun, sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga sangat ingin selalu  dekat bersamanya dan menjadi orang yang halal pertama dan terakhir untuknya.
                Kemudian saat ingin berpisah denganya detak jantungku semakin kencang sehingga menjerit – jerit mengatakan.
“ Ya, Rahman, biarlah seumpama rasa cinta ini yang telah engkau amanahkan sebagai ujianku, sehingga dihari yang telah aku sanggup melamarnya baru engkau bukakan rahasia ini padanya, aku akan setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan ridha atas semua takdirmu”.
Beberapa selang tahun kemudian aku tak pernah melihat dirinya mungkin karena kita berpisah sekolah, setiap malam aku hanya terbayang – bayang teduhnya malam bersama segelintir senyuman dan sinar cantik matanya yang membuatku tak bisa memejamkan mata rasanya hati ini gelisah, resah hampa tanpanya. Hari – harikumenjadi sunyi mencekam bila indah suaramu tiada terngiang ditelingaku.
Matahari sudah bertengger diatap rumah segeralah aku berangkat sekolah, tiba – tiba aku dikejutkan dengan temanku yang bernama Syaifullah dengan membawa cerita yang tak begitu sempurna dan menyakitkan.
“ Hai sob, aku dan Khumairoh insya allah akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….”
“ Ya Allah… Aisya siapa itu?” tanyaku dengan tergesa – gesa
“ Wissss kenapa kamu begitu terkejut dengan semua itu, ya itu Khumairoh tetanggamu yang kamu juga kenal denganya ” jawabnya seraya menatap mataku dengan melebar
“ oh itu” jawabku hanya mengangguk
Batinku berkata skaligus ku usap dada.
“ Ya Allah aku kira bukan Khumairoh pujaanku tapi ternya itu benar benar yang diidamiku, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Dilanjutkan oleh dia dengan menulis sebutir surat dan aku meratapinya.
“ Dinda Khumairoh kanda berharap cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda ingin kita menjadi sepasang suami istri nanti begitu saling tulus menyayangi, mengayomi bukan saling menghukumi, kanda begitu saaaaaangat mencintai adinda dengan tulus ikhlas mari kiita rajut suami istri ini dengan baik nanti dan mempercepat hubungan  ini, kanda akan segera lamar adinda ”
Itulah sedikit kata – kata dalam suratnya yang ditulis sahabat dekatku, aku hanya terdiam aku tak mungkin  mengatakan perasaan ini pada sahabatku, kalau aku juga sangat mencintai Khumairoh sejak dulu, biarlah perasaan ini terpendam sangat dalam meski sakit yang penting sahabatku tak ter sakiti. Maka dari itu aku tak melontarkan sekata apapun padanya.
                Sore menjelang malam, “ Ya, Rahman hari ini aku menangis kebenaran yang engkau minta dariku untuk meninggalkan permata itu. Betapa kini ada orang yang melihat cahayanya  dan betapa hancur diriku karena orang lain yaitu sahabatku sendiri, biarlah hati ini sakit kurasakan aku ikhlas demi sahabatku yang baik mungkin inilah takdirku ” inilah rintihanku pada saat itu yang tak diketahui seorangpun kecuali sang khaliq.
                Disekolah pagi ini Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, tanganku gemetar dan hatiku berteriak seperti kerasukan jin tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku terkejut dengan semua yang dia tulis sungguh sangat aku terkejut.
“ Untuk kanda Syaifullah, terimakasih kanda telah menitipkan rasa cintanya yang demikian besar. Sungguh gembira akan hati adinda karena sungguh dari pertama terpandang akan kanda, adinda sudah merasakn bahwa hati inipun mengharap akan kanda. Tapi tidaklah salah memilih adinda hanya gadis biasa sedangkan kanda begiiiiiiiiiitu sangat sempurna, adinda siap menjadi orang yang halal bagi kanda dan adinda sangat menyangi kanda tidak ada seorangpun yang menandingi rasa sayang ini untuk kanda, adinda terserah kapan saja untuk dilamar yang penting kanda siap menjadi imam dinda “
                Aku spontan tak melanjutkan ikut membaca surat itu, dan aku langsung pulang lalu bertanya tanya pada Hatiku sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku .
“ Lalu apa arti perjuanganku dulu untuknya padahal aku selalu ada untuknya, dan semuanya aku berikan padanya,?  Apa arti dulu dia mengungkapkan  semoga Mas menjadi imamku (Jodohku)?? apa ya Rahman aku bertanya pada-Mu? Apa salahku Ya allah Ya robbi ???? ”
Ya, Rahman, jujur aku juga ingin merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Apa bila aku masih punya kesempatan untuk merasakan cinta yang berjalin dengan kebahagiaan. Mulai saat ini kugantungkan pilihan terbaik pada dirimu Insya Allah aku terima dengan ikhlas  seperti apapun jodohku nanti.
Tak lama kemudian janur kuningpun melengkung disetiap rumah mereka masing – masing pertanda mereka akan menjalani pernikahan. Aku hanya pasrah pada sang maha kuasa menjalani takdir yang mana mestinya biarlah tuhan yang memberikan jodohku yang penting berusa dan sabar menjalani hidup yang lurus. Hidup memang tak lurus terus masih  ada yang namanya liku – liku jika ada sedih pasti ada bahagia, ku jalani hidup hari – hariku ini dengan sabar karena dibalik rahasia sedih ini pasti ada yang namanya  bahagia.
Menjelang satu Tahun kemudian dari pernikahan mereka, kuratapinya seperti anjing yang menggonggong ada rasa ketidak puasan dari mereka masing-masing, selalu ada yang namanya percekcokan. Maka pada saat itu juga kebahagianku sempurna seakan-akan surga bersamaku. kukembangkan kegiatanku mulai membaca, menulis, dan tahfidz Qur’an. Sehingga ku suksses masuk di salah satu Universitas, yaitu Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dan mendapatkan beasiswa sepenuhnya. Amien.
Bagi pembaca cerpen ini marilah bersabar menjalani hidup, banyak  senyumlah dan  ikhlaskanlah apa yang sudah terjadi, tuhanlah yang lebih tau. Suatu saat dibalik tetesan air mata pasti ada rahasia Tuhan yang lebih membahagiakan lagi yang belum kamu ketahui, jangan menyalahkan Tuhanmu sebelum kamu meneliti kehidupanmu sendiri. Terimakasih.

Tema                     : Tetesan Air Mata Dibalik Rahasia
Alur                       : Maju, Mundur
Latar                      : Di Sekolah
Waktu                  : Siang dan Malam
Suasana               : Menyedihkan
Tokoh                   : Khumairoh, Syaifullah
Penokohan         : Khumairoh } ,baik, namun kurang bisa mengetahui perasaan,sehingga menyakitkan orang
                                : Syaifullah }, Terbuka,Jujur,Disiplin (Baik)
Amanat                : 1. Sangat terharu karena ceritanya menyakitkan demi sahabat rela tersakiti, cinta memang sulit ditebak mana yang baik dan mana yang benar.
: 2. Ungkapkanlah langsung pada seseorang yang kalian sukai meski itu belum terjawab, karena dengan itu hatimu akan membaik . janganlah simpan perasaan itu supaya tidak menyakitkan diri kita sendiri dan janganlah kalian memberi harapan pada seseorang jika kalian tidak sayang padanya.
Sudut pandang Pertama               : Aku