Sabtu, 04 Januari 2020

Cerpen Nurul Sholehuddin “Gadis Berselimut Darah…”



Aku mulai tersadar, dan telah terbangun dari perjalanan indah mimpi semuku bersama gadis berselimut darah. Aku telah membuka mata setelah sekian lama terpejam menikmati malam indahku, berkelana menanti senja kala siang bangunnanku. Gadis berselimut darah telah mengingkari embun nikmatnya setelah apa yang telah dilakukan pada pemuda berkoin lentera. Ia tak pernah kembali usai perjanjian singkat lalu. Meski mentari senja masih tak jemu melakukan rutinitas siklus waktu: siang-malam. Gadis itu tak pernah kembali lagi mengiringi mentari senja. Ia pergi seiring tenggelamnya mentari di ufuk pada hari itu. Entah untuk mencari dan menemukan galaksi baru, dengan bintang barunya yang mungkin sinarnya jauh lebih terang dibanding dengan sinar bintang satu-satunya di galaksi Bimasakti: Matahari. Entah, mungkin di sana ia juga akan menemui pemuda lain untuk diberi penawaran yang membingunkan, untuk memilih siang atau malam saat kita berada di antara keduanya.
Aku masih mengenang senja. Air mata pemuda berkoin lentera telah mengkristal. Membentuk butiran permata berkilau yang tak terkalahkan sinarnya oleh permata terindah yang pernah diketemukan di planet ini sekalipun. Namun, seperti halnya perhiasan apapun – tetaplah perhiasan, ia hanya berbicara melalui nostalgia ingatan penglihatnya. Gadis itu hanya meninggalkan bercak ukiran yang menaburkan aroma tak sedap dalam goresan sejarah

Di sini, di galaksi ini, aku telah terbangun di pagi hari. Aku     menyadari kedatangan bintang satu-satunya galaksi tempatku berada kini: Matahari. Di momen ini, ku teringat bagaimana gadis itu membayangkan satu bintang, membuat miniatur bintang imajinernya. Teringat pula saat ia menawariku untuk memilih siang ataukah malam, namun tak kupilih keduanya. Dan gadis itu berlalu pergi meninggalkan air mata yang telah mengkristal, kini. Yah, ia telah pindah ke galaksi lain mencari dan menemukan bintang barunya. Kurasa, air mata kristalnya ini juga berguna untuk memberikan sinyal melalui pancaran cahaya sehingga aku masih tetap bisa berkomunikasi dengannya, pun hanya sekedip. Tanpa tatap muka, di ruang hampa. Mungkin, seperti saat kau menyalakan senter kecil di tengah laut saat helikopter penyelamat melintas di atasmu, dan ia tak melihatmu – ternyata.
Aku melanjutkan hidup di galaksi ini, bersama keceriaan sinar mentari pagi yang mengirimkan energi quark-quarknya untuk menggairahkan bunga-bunga di tamanku. Di sini, di galaksi ini, aku telah tersadar, bahwa aku tak lagi berada dalam senja yang merumitkan itu. aku tak lagi dibingungkan dengan siang atau malam. Usai perpisahan itu, aku sadari bahwa aku telah melewati malam panjangku bersama mimpi-mimpi dan kini telah kusambut pagi dengan sinar mentari yang menghangatkanku. Ku sapa bunga-bunga yang menari riang menyambut pasukan sinar. Satu bunga terlihat amat berbeda dari kebanyakannya, aku memetiknya. Namun, betapa kagetnya aku, tiba-tiba ia terbang seperti kupu-kupu, lalu berputar-putar di atas kepalaku.         “Bolehkah aku hinggap disini, di bahumu ini?” tanyanya. Aku masih kebingungan, tapi mulutku dengan spontan langsung saja berucap
“yah, silahkan jika itu membuatmu gembira” jawabku sekenanya. Ia secepat kilat meluncur lalu hinggap dan tertawa riang sekali. “Terima kasih banyak wahai kesatria, sekarang bawalah aku kemanapun kau mau. Aku ingin bersamamu selalu”. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi ini. Dia bunga teraneh yang pernah kutemui, ini diluar kebiasaan. Aku juga masih tak percaya dengan apa yang aku lakukan. Aku memetik bunga, dan bunganya terbang berputar-putar di atas kepalaku. Lalu seperti seorang putri yang baru saja dibebaskan pangeran pemberani dari penjara ratu sihir, bunga itu lantas hinggap di bahuku, mungkin sebagai tanda terima kasih. Bunga yang aneh, perpaduan kaktus di tanah tandus, dan teratai di air, sungguh aneh.
          Aku melihat satu titik kecil berwana putih cerah, hanya satu titik yang sangat kecil. Tapi entah kenapa ia menyorot tajam ke mataku. Aku tahu, aku telah berada di galaksi lain. Tapi kenapa ada sorotan tajam dari sana. Apa ia berasal dari bumi? Oh tidak, aku tak ingin lagi mengenangnya. Ingatan tentang bumi dan matahari yang mengiringi perjalanan hidupnya sangat menyebalkan untuk diingat. Bumi, dan isinya terlalu munafik bagiku. Ia hanya seutas sangkalan yang hanya menikmati dirinya sendiri. Apa dia pikir tak ada lagi galaksi lain di luar Bimasakti? Naif sekali. Huh, ia pikir, ia gadis satu-satunya. Waktu terus berjalan, dan ia tak memilih satupun. Ia bilang, ia mencintaiku, tapi nyatanya ia tak mau beresiko. Ah, dia terlalu munafik. Untuk apa aku meneteskan airmata saat meninggalkannya waktu itu?
Oh, di sini, di galaksi ini sungguh sangatlah cerah. Bintangnya jauh luar biasa indah dibanding Matahari di Bimasakti. Tapi, kenapa setitik sinar kecil dari bumi itu menyorot tajam ke mataku? Sungguh, rasaku tak mampu kubujuk, meski logikaku sangat memusuhinya. Aku merindunya, pemuda bumi yang kucinta, tapi juga si keparat, munafik, bah. Barangkali, bintang di sini lebih nyaman dari yang di sana. Tapi ini benar-benar rumit. Duhai, apa yang harus kulakukan? Apa harus kuteteskan lagi air mata ini, lalu ku kristalkan, yang nantinya bisa memantulkan cahaya bintang di tempat baruku ini hingga ia sampai ke bumi dan menyoroti mata pemuda itu? tidak.. sungguh, jangan sampai aku lakukan itu.. tidak, tidak…”
Gadis berselimut darah beberapa saat masih kebingungan ketika ia sampai di tempat barunya. Air mata yang ia tahan menetes juga pada akhirnya. Air mata itu terjatuh di daratan beku planet baru yang ia injak kini. Sekejap, air matanya mengkristal memancarkan sinar yang sungguh sangat menyilaukan. Ia berusaha menutupi dengan sisi bawah gaunnya, tak berhasil. Ia lalu menduduki air mata yang mengkristal itu, lebih parah. Sinarnya justru terserap ke tubuhnya dan membuat sinar kristal itu lebih besar lagi hingga cahayanya melebihi bintang Matahari di Bimasakti. Gadis itu lelah, lalu berdiri kembali. Perlahan ia ambil air mata yang telah mengkristal itu. Diangkatnya dengan kedua tangan, diarah kannya ke bumi. Larutlah ia bersama kenangannya “Sayang, kau memang menyebalkan. Inikah yang kau sebut cinta, hah? Kau, hanya memanfatkan ragaku untuk perjalan pendidikanmu, kau mencampakkan pilihan yang kuberikan. Lalu, Inikah maumu, Ummi?, kau menjawab sinyal itu. dengan rasa kesal yang teramat “Aku mencintaimu karna kau membantuku dalam urusanku”. Dengan teriakan nada itu goncangan hati menari bagaikan ombak yang menghantam batu karang, perjalananku sungguh dijadika jalan untuk kepuasan hatinya.
Dari kejauhan, kulihat titik putih kecil di langit, pada sore ini. yah, sore ini aku mengambil airmata gadis darah yang telah mengkristal tadi. air mata yang ditinggalkannya terakhir kali saat ia meninggalkanku. Aku menghadapkannya ke mentari sore yang bersiap tenggelam. Aku mengangkatnya tinggi-tinggi berharap pancaran sinarnya akan terlihat oleh gadis itu, entah di galaksi mana ia berada. Titik kecil itu, mungkinkah ia menjawab sinyal dariku ini? entahlah. Yang jelas, ini salam rinduku untuknya, biar terlihat ataupun tidak olehnya.
Bunga aneh di bahuku mendekapkan hinggapannya lebih erat.
“Untuk apa kau lakukan semua ini, wahai kesatria?” tanyanya menghapus lamunanku.
“Eh, eh… ti.. tidak. aku hanya ingin mempersembahkan untukmu cahaya indah di sore ini. kau suka?” jawabku tergagap mencoba membuatnya senang.
“Oh, indah sekali. Terima kasih, sayang”. Dalam hati, aku sungguh sangat merasa kesal pada diriku sendiri. Kenapa ku harus mengingatnya. Mungkin inilah waktunya, di sore yang menanti senja ini, untuk terakhir kalinya aku mengenang gadis berselimut darah itu. Aku harus beranjak pada malam. Bersambut dengan mimpi-mimpi indah yang bisa kurajut dengan bunga aneh yang menempel ini. Dan mungkin, ini saatnya untukku mencintai apa yang juga mencintaiku. Selamat tinggal gadis berselimut darah. Selamat datang cinta baru.
Dan malam telah menelan siang. Setitik putih di langit tak kulihat lagi. Aku menari riang bersama bunga anehku. Kunang-kunang mengerubungiku, berkelip indah membentuk simponi cahaya. Terbang nyata di sekeliling. Seperti kelip bintang di malam hari, tapi mereka tak semaya bintang nan jauh yang hanya bisa kupandangi. Kunang-kunang, mampu kutangkap dengan kepalan tanganku sendiri, ia benar-benar nyata di hadapanku. Semoga kau memanfaatkan ladang yang telah kau tanami bekas goresan lewat jendela kalbumu, yang begitu lembut tata riasmu walaupun kau sebenarnya tak lebih dari binanatang buas. (Didin Bayer)

Cerpen Nurul Sholehuddin Sekuntum Cinta Terbakar di Padang Salju


Memulai satu kisah perjalanan hidupku dengan Bismillah disusul dengan Subhanallah, semoga hariku menjadi  hari yang penuh berkah untuk menjalankan aktifitas yang berkaromah, Selintas kenangan dimasa yang lalu membayang tentang seorang gadis anggun bermata sebening embun se elok permata, Khumairoh, begitulah panggilnya. Gadis berhijab yang namanya seringkali kusebut dalam do’a sujud ikhtiarku, dalam beribu puisi, dan dalam sejuta mimpi-mimpiku. Kisah ini akan menjadi saksi tentang kisah sepucuk cinta yang tak tersampaikan melambangkan hiasan air mata yang dibalut segumpal bongkahan empedu.
Ya… Rahman, jadikan aku seperti udara yang segar diantara nafasnya. Saat mengingat dimana bersamanya jantung ini berdegub tidak menentu nadipun berhenti sejenak , hati ini turut berdesir tiap kali namanya kudengar. Hingga satu ketika, ku dengar ia berbicara seakan terucap begitu saja, kalimat indah yang menjadi ikrar semangat dari perjalanan hidupku.
“Mas, kalau nanti sudah dewasa akan jadi orang yang pandai mengajikan? kata ustadz lelaki yang paling baik adalah yang pandai membaca al-qur’an, Khumairoh ingin Mas menjadi orang yang selalu berada disampingku sekaligus menjadi imamku suatu saat nanti, aku sayang kamu Mas “
          Mata kecilnya menatapku seakan-akan ada butir air mata yang akan mengalir, matanya yang begitu jernih menatapku dalam, sungguh tak ada yang dapat kukatakan meski aku juga ingin selalu bersamanya dan menjadi orang yang halal baginya, menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir untuknya.
          Hingga tibalah satu masa dimana aku harus berpisah dengannya, melanjutkan studiku di kota orang, melanjutkan mimpi-mimpiku untuk merasakan panasnya bangku perkuliahan, menumpuk beribu harapan yang aku harap satu saat nanti juga menjadi alasanku untuk memenangkan hatinya, hati Khumairohku. Di detik terakhir perpisahanku dengannya, jantung ini berdetak dengan kencangnya seakan enggan berpisah dengannya.
“Ya, Rahman, jikalau rasa yang telah engkau amanahkan kepadaku ini adalah sebagai suatu ujian bagiku, hingga satu hari dimana aku sanggup melamarnya, aku akan setia menunggu hari persandingan dengannya sampai kapanpun dengan mengharap ridha atas semua takdirmu”, do’a kupanjatkan dalam hati, harapan yang kusampaikan sepenuh hati .
Bulanpun berganti tahun, tempat yang baru aktivitas yang baru, kesibukan yang baru, membuat hubungan kami mulai merenggang. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya, disetiap malam senyumnya selalu membayang, matanya yang teduh membuatku tak bisa memejamkan mata saat malam, berjuta resah gelisah berpadu dengan gelapnya malam. Entah mengapa hari-hariku menjadi sunyi sepi kala dia tak ada disampingku.
Dan pada hari itu, hari yang tak akan pernah aku lupa seumur hidupku. Kala mentari pagi menyibak dinginnya pagi, saat tengah perjalanan ke kampus, aku bertemu Syaifullah, sahabat karibku. Kulihat roman wajahnya yang berbinar menyapaku dan bercerita tentang kebahagiaannya pagi itu, yang ternyata menjadi awal kepedihanku.
“Assalamu’alaikum, Cong kamu tahu kenapa pagi ini aku begitu bahagia? Harusnya kamu memberi ucapan selamat dan lekas berdo’a semoga aku dan Khumairoh akan menjadi pasangan yang serasi nanti,….” Dia bercerita dengan penuh semangat hingga tak bisa kusela.
“Ya Allah… Khumairoh siapa Cong?” tanyaku dengan tergagap bercampur kekhawatiran yang teramat sangat.
“Wissss kenapa kamu begitu terkejut Cong? ya itu Khumairoh tetanggamu” jawabnya seraya menatap mataku dengan senyum yang lebar.
“Oh itu…” Jawabku seraya mengangguk.
Batinku terluka, sekejap nafasku terasa tercekat, dadaku terasa terhimpit, hatiku teramat sakit.
“ Ya Allah… aku kira bukan Khumairoh pujaanku Ya Allah, tapi ternyata itu dia Ya Allah, remukkkkkkkkk ya Allah ”
Syaifullah yang tidak melihat perubahan sikapku, dengan begitu semangatnya bersiap menulis sebuah surat kepada Khumairoh, sebuah surat yang aku iringi ratapan batinku.
“Dinda Khumairoh kanda berharap cinta tulus dari dinda hanya bagi kanda seorang. Kanda ingin kita menjadi sepasang suami istri yang tulus menyayangi satu dengan yang lain, saling mengayomi bukan saling menghakimi, tahukah engkau adinda? Kanda saaaaaangat mencintai adinda dengan setulus hati, seraya bergandengan tangan, kita rajut jalinan kasih ini sebagai ikatan yang halal, yang semoga hanya maut yang memisahkan, jadilah ibu dari anak-anak kita nanti adinda, mari kita segerakan niat baik ini, insyaalah dalam waktu dekat kanda akan segera melamar adinda ”
Itulah sebaris kata-kata yang ditulis sahabat karibku ini dalam suratnya, melihat kebahagiaannya aku hanya terdiam, kediaman yang mungkin akan membuatku bahagia seumur hidup atau mungkin membuatku menyesal seumur hidup. Keadaan ini membuat hatiku bergolak, disatu sisi aku tak mungkin  mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada sahabatku, kalau aku juga sangat mencintai Khumairoh sejak dulu, bahkan mungkin aku jauh lebih dahulu.
Disisi yang lain ikhlaskah aku melepasnya? melepas Khumairohku. Gadis yang selalu hadir disetiap do’a dan mimpiku, gadis yang menjadi energi dalam gerak langkahku, dalam setiap lekuk karya kerjaku.  Terlebih lagi kepada sahabatku sendiri, ya sahabat dekatku akan menjadi pendamping kekasihku.
Ah, betapa hidup ini begitu memuakkan, ingin rasanya aku marah, tapi kepada siapa? Ingin rasanya aku memaki! Tapi kepada siapa? Kepada Khumairoh? Tegakah aku? Kepadanya yang selalu kubuatkan puisi kala rindu ini mulai menyesakkan dada? Ataukah kepada sahabatku? Apa salahnya? Bisakah aku menuduhnya merebut permata hidupku? Kukira tidak! Lalu kepada siapa? Kepada Tuhan? Ya, Dia yang merencanakan semua ini! Pertemuanku  dengan Khumairoh, kalimat suci yang diucapkan Khumairoh, perpisahan kami, tragedi ini, Dia yang harus bertanggung jawab!” Berjuta pertanyaan beterbangan didalam otakku, berjuta perasaan berhimpitan dihatiku, berjuta-juta manusia kenapa harus aku?
Diam akhirnya hanya diam, setelah lelah berfikir, bertanya, memaki, puncaknya hanya diam, diam berharap semua ini hanya mimpi, diam berharap semua ini tak pernah terjadi. Akhirnya kuputuskan biarlah perasaan ini tetap terpendam adanya, cukup hanya aku yang merasa dipecundangi nasib dan dipermainkan takdir.
          Entah mengapa rasanya senja sore ini terlalu temaram, “Ya Rahman… hari ini hatiku menangis mempertanyakan takdirmu memisahkanku dengan cahaya hidupku. Betapa sulit membayangkan akan ada orang yang memiliki cahaya itu, cahaya yang pernah aku harap menjadi penerang dalam hidupku dan mengapa harus sahabatku sendiri Ya Rahim? Inikah takdirku? Takdir yang harus aku terima?” tak ada yang berubah hingga senja berganti malam, meninggalkan hatiku yang tetap dalam kebimbangannya.
          Beberapa waktu kemudian, tak sengaja aku mengetahui bahwa Syaifullah menerima surat dari Khumairoh, meski perih akupun turut membaca suratnya, tanganku gemetar, dan hatiku berteriak seperti kerasukan jin, tapi kebenaran adalah kebenaran. Betapa aku terkejut dengan semua yang dia tulis, sungguh aku sangat terkejut.
“Teruntuk kanda Syaifullah, terimakasih kanda telah menitipkan rasa cinta kanda yang demikian besar kepada adinda. Sungguh gembira hati adinda karena sungguh dari awal pandangan pertama, adinda sudah merasakan bahwa hati inipun mengharapkan kanda. Tapi tidakkah kanda salah memilih adinda yang hanya gadis biasa sedangkan kanda begitu sempurna? Insyaallah adinda siap menjadi orang yang halal bagi kanda, adinda menurut saja kapanpun kanda akan melamar dan siap menjadi imam adinda “
          Aku putuskan untuk tidak melanjutkan membaca surat itu, dan setelahnya tak pernah lelah aku bertanya pada hatiku sendiri dengan bersujud di atas sajadah tasbihku.
“Lalu apa arti perjumpaanku dulu dengannya, aku yang selalu ada untuknya, dan pengorbanan yang aku berikan padanya? Lalu apa artinya saat dia mengungkapkan semoga kelak aku menjadi imamnya? Apa maksud-Mu Ya Rahman? Apa sebenarnya mau-Mu? Apa salahku Ya Allah Ya Robbi ????”
“Ya Rahman, jujur akupun ingin merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Adakah kesempatan untuk aku merasakan cinta yang membahagiakan? Ya Rahman jika memang ini yang Engkau inginkan dariku, mulai saat ini kugantungkan pilihan terbaikku pada dirimu Ya Rahman, Insyaallah aku akan berusaha menerima dengan ikhlas apapun takdirku”.
Tak lama kemudian janur kuningpun melengkung disetiap rumah mereka masing-masing, pertanda mereka akan menjalani pernikahan. Aku hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa menjalani takdir yang aku sendiri tidak pernah mengerti arah dan akhirnya, biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana kisah hidupku ini akan berlanjut. Pelan tapi pasti, aku berharap waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Meski aku tahu, hidup memang tak pernah mulus, akan ada yang namanya lika-liku, tapi kenyataannya sungguh tidak semudah teorinya. Sesudahnya aku berusaha menjalani hari-hariku ini dengan sabar, karena aku yakin akan ada hikmah dibalik semua rahasia ini.
Setahunpun berlalu, aku mendengar kabar yang entah harusnya aku bersedih atau bahagia karenanya. Sering kali kudengar dari teman-temanku bahwa rumah tangga yang dibangun Syaifullah dan Khumairoh kurang harmonis, kerap kali mereka bertengkar hanya untuk hal-hal yang sepele. Ada rasa senang membuncah dalam dada kala aku merasa sakit hatiku mulai terbayarkan, ada rasa sedih kala mengingat seseorang yang kusayangi dan sahabatku menjalani hidup yang tidak bahagia. Aku hanya berdo’a semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kami bertiga, semoga rahmat dan ridlo-Nya menyertai kami dimanapun kami berada.
Bagaimanapun hidup harus tetap berlanjut, ditempat yang baru ini, dengan suasana yang baru ini, aku mulai melupakan sedikit demi sedikit kenangan-kenangan itu. Berkat kesibukan dan teman-teman baruku, aku berhasil menjadi pribadi yang baru. Aku mulai menjalani kegiatan-kegiatan positif dan mengembangkan kegemaranku, dari membaca, menulis, hingga tahfidz Qur’an.


Mungkin berkat masa lalu aku banyak belajar untuk mempersiapkan masa depan, rasa sakit itu mengajarkanku banyak hal, dari memakinya, menikmatinya, hingga bersyukur atasnya, lalu merubah energinya untuk menjemput kebahagiaanku sendiri. Ah Tuhan memang selalu seperti itu, tak pernah aku mengerti cara-Nya mencintai hamba-Nya, tak pernah bisa kuduga  jalan fikiran-Nya, tak pernah bisa aku fahami candaan-Nya. Dia memang sutradara yang paling gila, yang tak pernah gagal membuat hamba-Nya bertekuk lutut dan jatuh hati kepada-Nya. Entahlah, aku merasa kali ini Dia tersenyum padaku, senyum yang tak bisa benar-benar aku fahami, tersenyum atas akhir kisahku ini atau mungkin untuk kisahku selanjutnya nanti. Tapi satu hal yang aku tahu, Dia adalah kekasih yang paling romantis. (Di2n Bayer)


















Senin, 11 Mei 2015

Cerpen Lawas

cerpen lawas nemu di folder usang

Gara- Gara Bokek
“ Zal, pinjem duitnya, dong. “
Di antara tidurku pagi itu aku mendengar sayup- sayup suara di kupingku. Namun akibat dari udara dingin yang menyergap dan rasa kantukku gara- gara begadang, kuindahkan suara- suara yang terus mendengung di telingaku.
“ Zal, bangun, aku butuh duit, nih. “
Terdengar suara itu lagi. Ah, males. Dingin, br, br,br..
Tiba- tiba sejenak waktu kemudian kurasakan ada tangan yang memegang bahuku dan perlahan menggoyangkannya. Deg, aku terkesiap. Siapa, ya? Bukankah di kamar kostku hanya ada aku sendiri? Sejak tadi malam tak ada teman kost yang berkunjung di kamarku. Lagi pula dingin- dingin begini siapa yang sudah bangun? Lha, wong, gempa tiga tahun lalu aja mereka gak bangun. Lantas siapa yang sekarang berada di kamarku dan tangannya nakal ‘nggrathil’ memegang bahuku dan menggoyang- goyangkannya? Ya, Allah, Rizal sudah sholat subuh tadi, doaku dalam hati.
Dengan kuberanikan diri walaupun masih ada perasaan takut kucoba menarik nafas pelan- pelan menenangkan diri dan kugerakkan tanganku mencari tangan sesosok yang menggoyangkan tubuhku. Yup, i find it ! Teriakku dalam hati setelah menemukan apa yang kucari. Perlahan dari punggung tangannya tanganku naik untuk mencari pergelangan tangannya. Huh, siapa, sih, yang punya tangan berbulu begini? Dengusku dalam hati.
“ Eh, Rizal! Dasar, loe, nyuri- nyuri kesempatan pegang tangan gue! “ teriak Doni marah.
“ What?? Ngapain kamu di sini, Don? Pagi- pagi lagi? “ balasku tak kalah sewot. Lha siapa yang gak sewot, udah pagi- pagi, ganggu tidur orang, nggrayangin lagi, eh, malah marah- marah. Kebalik, dong, seharusnya yang marah tuh aku! Mataku melotot menjurus ke arah Doni.
“ Sory, sory. Aku butuh, nih. Mulutku kering. Tapi duit gak ada. “
“ Huh, baru empat hari, udah habis punyamu? Tuh, ambil di kotak di atas almari,” suruhku.
Doni pun beranjak dari tempat tidurku dan mengambil kotak di atas almari.
“ Busyet! Kamu juga pake, Zal? Sejak kapan? Aku kasih tahu ke ibumu mati loe !” katanya. “ Ck, ck, ck.” Doni menggeleng- gelengkan kepala tidak percaya.
“ Enak aja. Itu punya temenku. Hadiah katanya. Padahal dia tahu kalo aku gak make. Main maksa aja dia. Eh, how lucky you are. Tuh barang bisa buat elo, “ jelasku panjang lebar.
“ Hm, selera temenmu bagus juga. Ni macem emang paling nikmat…” katanya lagi sambil mencium bungkus barang itu. Mata Doni berbinar- binar membayangkan paginya ditemani barang dariku. “ Thanks, ya.” Doni pun keluar dari kamarku bernyanyi- nyanyi kecil. Tralala, trilili…
Alhamdulillah, batinku lega. Gangguan telah berakhir. Kulanjutkan lagi tidurku pagi itu. Tidur lagi? Iya, sob. Ngantuk banget, nih. Gara- gara begadang ngerjain laporan yang baru selese tadi subuh. Habis, tuh laporan musti dikumpulin nanti siang. Hm, kuposisikan tubuhku senyaman mungkin untuk melanjutkan tidurku. Bismillahirrahmanirrahim. Ya, Allah, nanti Rizal akan kuliah pukul 10.00. Bangunkan daku pukul sembilan,ya.. Mataku pun terpejam kembali.
Tiba- tiba….
“ Rizal !!! Nih, rokok zaman kapan???? Kok, rasanya asem?? “ teriak Doni dari kamarnya.
“ Enggak tahu! Rokok itu punya temenku yang dateng ramadhan kemaren…” balasku masih dengan mata terpejam. Rasain, batinku. Sama rokok aja nyandu..
“ ********************!!” ( sensor, red. ). Tut………..

Kamis, 02 April 2015

The Laws

The Laws




Dengan matanya yang kuyu ia menerawang jauh melihat ke sekeliling dari balik jendela kaca yang terus bergerak, pada segala hal yang mungkin saja baru dapat ia lihat untuk pertamakali dalam hidupnya, meskipun masih tampak samar. Lelaki yang menerawang jauh itu usianya sudah sangat tua, terlebih jika dilihat dari penampilan fisiknya: laki-laki berambut putih cepak penuh uban. Lengkap dengan kulitnya yang sudah keriput. Lelaki tua itu di dalam sebuah bus reot yang datang dengan terguncang-guncang. Sebagai benda tua yang berjalan terseok-seok memasuki terminal, mungkin sudah tak kuat lagi menaggung segala beban itu, akhirnya teronggoklah dia, meraung sebentar dan langsung mogok setelah berhenti dengan napas batuk tersenggal-senggal. Manusia-manusia pengisi perut benda usang itu pun berhamburan ke luar, seakan benci kepanasan di dalam benda ini atau jemu dengan rona warnanya yang memudar dan mulai berkarat di sana-sini, malah semakin tampak pudar ketika sinar pagi perlahan menerpanya.
Adalah hal yang biasa, dan bisa setiap hari ditemui, bahkan hampir tak ada hal yang menarik bagi orang-orang urban itu: para buruh yang baru pulang kerja, sopir yang mengejar setoran, kernet kebingungan, pengamen, dan pedagang asongan, atau siapa pun yang hidup di sini. Ya, sangat biasa! Siapa yang tahu? Tapi mungkin, di kepala seseorang yang sangat sederhana, semua akan tampak sangat berbeda. Turunnya seseorang dari bus tentu juga sudah biasa, tapi siapa sangka? Ia pun turun dari benda itu, segala macam penawaran langsung menyongsongnya, para kernet angkot, para kuli panggul, para pedagang asongan, dan sebagainya, dan sebagainya lagi. Sehingga  dalam pikiran kakek yang sederhana itu tersirat,
“Betapa ramah orang-orang yang tinggal di sini! Tapi saat ini aku sedang tidak butuh bantuan mereka, aku hanya perlu menemui anakku.”
Jika di lihat dari gambaran wajah lelah itu, perjalan yang barusaja ia tempuh terlalu panjang dan melelahkan, karena itu bersandar sebentar di kursi tunggu agaknya cukup membantu melepas segala lelah. Dan hiburan, bagi orang yang belum terbiasa dengan keadaan di sini sepertinya sangat mudah ditemui, cukup dengan melayangkan pandangannya ke depan. Karena tepat di seberang jalan, terhampar sebuah taman luas, tempat sebuah rumah besar dan megah berdiri. Beberapa orang berkerumun riuh di depan pintu pagar rumah tersebut, sedangkan beberapa yang lain mencoba menghalau pergi kerumunan orang-orang itu, sungguh suatu hal yang menarik bagi kakek tua itu.
Di sebelahnya duduk seseorang yang berpakaian sangat rapi, wajahnya antara cemas dan waspada dengan sedikit bumbu ketakutan, sesekali mengintip ke seberang jalan, lalu kembali tenggelam dalam lembaran koran yang dibacanya, seakan sedang menembunyikan wajahnya dengan berita. Karena  heran, sang Kakek Tua pun berguman dalam hati,
“Tampaknya orang ini tahu sesuatu, sebaiknya aku bertanya padanya …,”
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada orang itu.
“Selamat pagi juga!” jawabnya.
“Apa yang sedang dilakukan orang-orang di seberang sana?” Tanya pria tua itu lagi.
“Hal yang sudah biasa. Mereka sedang berdemonstrasi.”
Pada awalnya si Kakek merasa kebingungan dan tidak mengerti degas apa yang sedang dibicarakan pria itu, lalu dengan canggung ia bertanya lagi lebih jauh,
“ ‘Demonstrasi?’ Apa itu demonstrasi? Aku belum pernah mendengar kata itu!”
“Demonstrasi adalah kegiatan mengungkapkan perasaan yang sama bersama orang lain secara beramai-ramai.”
“Oooh…, menurutmu, mereka berdemonstrasi untuk apa?”
“Mengungkapkan perasaan kepada Wakil Rakyat!”
“ ‘Wakil Rakyat?’ ” sahut sang Kakek heran, satu lagi kata-kata yang tidak bisa ia mengerti.
“Ya, Wakil Rakyat, orang yang mewakili rakyat dalam persidangan Negara.”
“Mengapa tidak semua rakyat saja diajak bersidang? Kenapa harus pakai wakil?”
“Tentu harus pakai wakil, jumlah rakyat di Negara ini berapa juta? Jika semua diundang untuk bersidang, berapa luas tempat yang dibutuhkan? Berapa banyak makanan yang harus disediakan? Itu semua terlalu makan tempat dan banyak biaya!”
“Oooh, aku paham, jadi orang-orang berdemonstrasi di seberang jalan itu sedang mengungkapkan perasaan pada wakil mereka?”
“Ya…, tapi seorang Wakil Rakyat begitu sibuk mengurusi pekerjaannya, sehingga tak ada waktu untuk mendengar pendapat ribuan rakyat yang diwakilinya itu satu-persatu!”
“Jadi, para Wakil Rakyat itu sebenarnya mewakili rakyat yang mana? Jika pendapa yang diwakilinya saja tak pernah mereka dengar!”
“Jangan salah! Para Wakil Rakyat itu bukan wakil penyampai pendapat rakyat, tapi wakil dari jumlah rakyat yang harus hadir dalam setiap rapat dan sidang yang diadakan oleh Negara. Satu pendapat Wakil Rakyat dianggap sama, setara dan mewakili dengan pendapat beberapa ribu rakyat.”
“Ha ha ha ha…, pikiran yang lucu! Lalu, apa yang mereka persidangkan?”
“Tidak lucu! Ini tentang hal yang serius! Pembuatan Hukum.” Jawab orang itu dengan gusar karena merasa dibodohi.
“Hukum untuk siapa? Semua rakyat?”
“Ya, tentu!”
“Tapi, bukankah semua rakyat secara nyata tak pernah mengeluarkan satu pendapatpun pada pembuatan Hukum itu? Mengapa harus ditaati?”
“Itulah gunanya demonstrasi!” kata orang itu sambil bangkit dari tempat duduknya, lalu beranjak pergi.
“Jadi semua itu bohong?!” seru sang Kakek dengan suara yang agak keras karena lawan bicaranya berjalan menjauh.
“Jadi, semua itu cuma kebohongan?!” serunya lagi.
“Ya…, sudah aturan!” sahutnya samar-samar terdengar.
“Ada yang hampir saya lupakan…, kita belum berkenalan!”
“Itu tidak perlu!”
“Maaf jika begitu! Tapi, siapakah anda?”
“Saya…, seorang…, Wakil,… Rakyat,…” sahut suara itu semakin samar ditelan keramaian terminal.
Agaknya ia kebingungan mendengar pengakuan pria berpakaian rapi tadi. Tapi karena cuma tinggal ia sendiri sekarang di kursi tunggu itu, sehingga dia berbicara sendiri dalam hati,
“Jadi semua itu cuma kebohongan saja? Ah aneh sekali orang-orang di sini, lucu sekali isi pikiran mereka,…”
--->@@@#@@@
Tak seberapa jauh dari terminal terdapat bangunan besar yang lain, sebuah kantor polisi. Sepi saja kantor itu, hanya ada seorang polisi jaga piket di pos jaga kecil depan kantor. Si Kakek hendak menanyakan alamat pada polisi, namun karena merasa tertarik pada orang yang tampak  aneh di pos itu, sang Kakek duduk sebentar di sebuah bangku panjang di depan pos jaga piket.
“Selamat pagi!” sapa sang Kakek pada sang Polisi.
“Selamat pagi juga!” sahutnya.
“Maaf, boleh tanya alamat ini?”
Polisi itu terdiam sebentar mengamati secarik kertas, agak terperanjat pada tujuan sang Kakek tua,
“Anda akan ke Istana Negara?! Sebuah gedung berwarna putih, tempatnya tepat di tengah kota.., tapi untuk apa anda ke sana?”
Pria tua itu tak menjawab sepatah kata pun, malah balik bertanya,
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Yang dilakukan Polisi?”
“Ya…, apa yang dilakukan oleh para Polisi?”
“Hal yang memang biasa. Sederhana saja, kami menjalankan amanat hukum!”
“Amanat hukum?”
“Ya…, kami menjaga ketertiban, keamanan dan jaminan keselamatan masyarakat dari kejahatan dan…, yah kau tahu? Hal-hal semacam itu. Semua berdasarkan hukum yang telah dibuat!”
“Menarik…, hebat sekali pekerjaan kalian! Sehingga tak ada satupun orang yang terganggu kejahatan orang lain!”
Tapi jawaban sang Polisi sangat mengagetkan pria tua itu,
“Tetap ada.” Jawabnya ringan seperti tanapa beban, entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
“ ‘Tetap ada?’ Bukankah itu sudah menjadi tugas kalian? Jadi, kalian gagal menjalankan tugas?!”
“Tentu tidak! Kami Polisi, bukan body guard. Coba pikirkan berapa jumlah masyarakat di Negara ini? Dan berapa jumlah Polisi di Negara ini? Tentu tidak cukup polisi apabila setiap satu orang dijaga oleh satu polisi. Lagipula siapa yang akan menjaga kami? Semua itu tidak cukup orang, bukan?”
“Jadi, Polisi tidak berguna? Dan pekerjaan kalian sia-sia?”
“Tidak, ukuran dari gagal atau berhasilnya pekerjaan Polisi diukur dari jumlah yang besar, bukan penjagaan orang-perorangan. Kami Polisi, bukan body guard!”
Sang Kakek terdiam sebentar tanda tak mengerti, lalu berucap dengan menghembuskan napas panjang,
“Aku tidak paham…,”
“Begini, Polisi dikatakan berhasil, jika mampu mengurangi jumlah kejahatan dari setiap seribu orang misalnya, bukan kejahatan pada setiap orang! Mereka…,”
Penjelasannya diputus oleh sang Kakek, dia sudah tahu kelanjutannya,
“,… Polisi, bukan body guard! Lalu apa yang kalian lakukan pada seseorang yang telah terkena aksi kejahatan?”
“Kami menyelidiki dan kemudian menangkap seseorang, itu tugas tambahan Polisi.”
“Bagaimana kalian tahu siapa orang yang bersalah? Dan menangkap orang itu? Jangan-jangan kalian sembarang tangkap?!”
“Polisi, tidak menangkap orang yang bersalah, tapi menangkap orang yang diduga bersalah. Dan yang menentukan kebenaran tentang dugaan bersalah itu bukan lagi urusan kami, itu urusan pengadilan!”
“Tetap saja kalian sembarang tangkap!”
Polisi itu terdiam, sang Kakek pun bertanya lagi,
“Oh ya…, jika ‘ketua’ polisi juga diduga bersalah, polisi mana yang berani menangkapnya?”
“Eemmm…, itu sudah bukan urusan polisi, tapi urusan Polisi MIliter!”
“Polisi Militer?”
“Polisi militer adalah Polisi yang menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan polisi biasa dan tentara.”
“Jika ‘ketua’ Polisi Militer diduga bersalah, siapa yang berani menangkapnya?”
Polisi piket itu terdiam lagi, membuat sang Kakek berguman pada dirinya sendiri,
“Aku bisa bertanya terus padanya, tapi jawabannya selalu berputar-putar pada lingkaran yang sempit…,”
--->@@@#@@@
Tengah sang kakek berjalan ke tengah kota, langit terasa bertambah cerah dan badanpun semakin gerah, rasa panas yang tak tertahan membuatnya berlari menuju tempat terdekat untuk berteduh. Dia membuka pintu, dilihatnya barisan orang-orang duduk di kursi-kursi panjang. Seperti gereja, tapi ini bukan gereja, ini adalah sebuah ruangan pengadilan. Dia pun duduk di salahsatu bangku, sekedar untuk berteduh.
“Selamat siang!” sapa si Pria tua pada salahsatu pengunjung persidangan ini.
“Selamat siang!” jawab pengunjung itu.
“Apa yang dilakukan orang-orang di sini?”
“Hal yang sangat biasa. Para Hakim, Jaksa, Pengacara, Penggugat, Saksi dan Tergugat di depan sana sedang bersidang, sedangkan kami sedang menyaksikan persidangan ini.”
“Apa yang sedang mereka persidangkan?”
“Lihat saja!” katanya.
Kakek tua itu terdiam, kemudian terlihat dua orang bertengkar hebat di depan sana.
“Kamu pasti sudah mencuri!” maki orang pertama.
“Kamu lebih dulu mengambil apa yang seharusnya menjadi hak ku!” jawab orang ke-dua dengan nada tinggi.
Sang Kakek mulai bertanya lagi,
“Apa gunanya mereka berdua mempersidangkan itu?”
“Jelas untuk mencari siapa yang salah di antara mereka berdua!”
“Mengapa harus begitu? Seharusnya mereka berdua mengoreksi diri mereka sendiri!”
“Itu terlalu rumit, tak akan ada orang yang mau mengakui kesalahannya sendiri, oleh sebab itu mereka datang ke pengadilan ini untuk bersidang, mencari siapa yang salah.”
Tiba-tiba Hakim mengetok palunya beberapa kali, tanda pengadilan akan segera dimulai. Para pengunjung yang semula riuh, dalam sekejap menjadi diam. Karena takut menggaggu, sang Kakek pun berbisik-bisik pada pengunjung tadi,
“Bagaimana cara mencari tahu siapa yang salah di antara mereka?”
“Dengan saksi.”
“Jika saksi berbohong?”
“Mereka telah disumpah untuk jujur, tentu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan!”
“Jika sudah ada Pengadilan Tuhan, mengapa bikin pengadilan sendiri?”
“Bukankah sudah kubilang? Tentu, orang selalu mencari siapa yang salah atas suatu hal.”
“Tapi, bukankah semua orang pasti punya salah?”
“Ya…, pasti. Tapi hanya salah yang memiliki bukti yang dipersidangkan di sini. Dan hanya orang yang suka mencari-cari masalah yang mau bersidang.”
“Jika bukti itu palsu?”
“Palsu atau tidaknya suatu bukti, tidak menjadi masalah bagi manusia. Karena bagi manusia, sesuatu yang yang memiliki bukti adalah hal yang paling benar.”
“Jadi, semua ini hanya bicara tentang bukti?”
“Tidak semua!”
“ ‘Tidak semua?’ Misalnya apa?”
“Misalnya: Ada Jaksa, tugas seorang jaksa adalah membela orang yang menuduh seseorang, menuntut berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi pendukung tuduhan. Dan ada juga Pengacara, tugas seorang pengacara adalah membela orang yang dituduh bersalah, membela berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi penyangkal tuduhan. Lalu Jaksa dan Pengacara berdebat hebat, siapa yang menang debat itulah yang kemungkinan besar akan menang sidang!”
“Mengapa bisa begitu?”
“Karena, keputusan tertinggi ada di tangan Hakim. setelah Hakim menyaksikan perdebatan itu, maka Hakim menentukan siapa yang bersalah?”
“Lalu, apa gunanya menentukan orang yang bersalah?”
“Menghukum orang yang dinyatakan bersalah, itulah mempertanggungjawabkan masalahnya!”
“Apa dengan begitu masalah selesai begitusaja?”
”Eemmm…, sebenarnya tidak juga. Masalah masih berlanjut, hanya saja ada orang yang dipersalahkan dan semua orang merasa puas jika ada yang dihukum serta orang orang merasa puas jika sebuah beban tidak dipikul bersama-sama.”
“Lucu sekali manusia jika begitu! Mengapa kita mencari siapa yang salah pada suatu masalah? Sedangkan semua orang pasti mempunyai kesalahan! Mengapa tidak diselesaikan saja masalah itu bersama-sama? Itu adalah sesuatu yang jelas-jelas berguna! Daripada mengikuti keinginan untuk meletakkan beban masalah pada orang lain?”
Lawan bicaranya hanya mengangkat kedua bahu, tanda ia sendiripun tidak tahu. Kakek itu pun sudah berfikir berkali-kali dengan cara berfikirnya yang sederhana,
“Betapa aneh dan lucunya cara berfikir orang-orang kota yang pintar-pintar ini.”
 Sementara panas di luar semakin mereda, dan akhirnya matahari benar-benar condong, maka sang Kakek tua pergi dar sini untuk melanjutkan perjalannya dengan meninggalkan orang-orang pintar yang masih berdebat di depan sana.

--->@@@#@@@
Perjalan berlanjut lagi, sudah tak seberapa jauh dari gedung putih besar di tengah kota. Namun ada satu hal yang sedikit mengganggu pikirannya, sebuah penjara.
“Mau menjenguk siapa?” tanya penjaga penjara, tanpa salam maupun sapa.
“Selamat sore, maaf saya cuma mau tanya satu hal, jika boleh saya mau tanya banyak hal.”
“Silahkan saja! Tak banyak yang mau bicara dengan saya!”
“Apa benar gedung putih itu Istana Negara?”
“Tepat! Tapi jika mau ke Istana Negara, kenapa datang ke penjara?”
“Bukankah sudah saya bilang? Saya Cuma mau tanya, banyak hal jika diperbolehkan…,”
Penjaga penjara itu mengerenyitkan dahinya.
“Apakah orang-orang dalam penjara itu sedang mempertanggungjawabkan kesalahan mereka?”
“Hal yang terlalu biasa. Semua orang sudah tahu. Seharusnya kau juga sudah tau itu!”
“Bagaimana bisa dalam penjara mereka mempertanggungjawabkan kesalahan mereka? Seorang pembunuh misalnya, apakah mereka bisa mengganti nyawa yang telah dia hilangkan di sini? Atau nyawanya sendiri sebagai ganti?”
“Bukan seperti itu. Setiap orang menginginkan kebebasan, tapi di sini mereka kehilangan kebebasan itu. Mereka dikurung, dipaksa hidup di tempat yang sempit, mengerjakan pekerjaan yang tidak mereka sukai, dan dikekang untuk tidak bisa pergi ke manapun!”
“Tuggu dulu! Sepertinya itu tidak jauh berbeda dengan biarawan. Para biarawan juga terkurung, memaksakan diri hidup di tempat sempit, memaksakan diri dengan pekerjaan yang juga tidak mereka sukai, dan bahkan juga mengekang diri untuk tidak bisa pergi kemanapun!”
“Itu jauh berbeda, nara pidana dipaksa untuk menderita, sedangkan para biarawan menderita atas kemauan mereka sendiri.”
Sang Kakek terdiam sebentar, mengamati kesibukan manusia modern yang terjebak macet di jalan raya, lalu berkata dengan masih mengamati orang-orang di jalanan,
“Bagaimana dengan orang-orang biasa yang bukan di penjara dan juga bukan di biara? Mereka juga terkurung, mereka terpaksa hidup di ruangan sempit di tengah perumahan yang padat ataupun dalam mobil sempit dan panas di tengah kemacetan, mereka juga dipaksa oleh pekerjaan yang mereka pilih sendiri, harus begini dan harus begitu dalam pekerjaan mereka, bahkan meskipun tampak bebas sesungguhnya mereka adalah orang paling terkekang, mereka tak pernah bisa pergi ke manapun sesuka hati mereka tanpa izin dari majikan, keluarga, atau siapapun itu! Lihatlah, untuk berjalanpun mereka harus dikurangi kebebasannya pada segala rambu di jalanan, bagaimana degas pajak yang harus mereka bayar untuk hidup yang selalu mereka ratapi? Lantas apa bedanya sekarang?”
“Nah itu tahu! Manusia harus tidak bebas agar memudahkan penguasa mengatur mereka, jika mereka ingin bahagia hidupnya. Justru karena terlalu bebaslah para nara pidana itu masuk penjara.”
“Ya…, tapi kebebasan adalah kebahagiaan yang sesungguhnya…,”
“Nyatanya tidak seperti itu! Pak tua yang banyak tanya, sekarang kalau boleh saya tau anda ke Istana Negara mencari siapa?”
“ ‘Mencari siapa?’ Anak saya…,”
“Anak Bapak kerja apa di Istana Negara?”
“Kata anak saya, pekerjaannya sebagai Presiden. Apa sih Presiden itu?”
Sang Penjaga penjara tercenung mendengar itu, antara percaya dan tidak percaya,
”Ini samasekali bukanlah hal yang biasa! Anda dikombinasikan dengan anak anda, bukanlah hal yang biasa.”
“Hal yang biasa? Ah kalian ini terlalu terbiasa dengan segala hal di sekitar kalian. Bahkan masalah yang tak kunjung selesai pun menjadi hal yang biasa, sehingga kalian jadi lupa untuk menyelesaikan masalah itu.”
Serang, 24 September 2014
Kepada: Bapak Presiden dan semua Aparat Negara, jangan lupakan masalah kami yang selalu menunggu untuk diselesaikan

Cintaku Berawal Dari Facebook

Cintaku Berawal Dari Facebook



Hari ini hari minggu, yaitu hari yang banyak di tunggu-tunggu bagi anak muda zaman sekarang. Tapi tidak denganku, semenjak dia meninggalkanku demi cewek lain, maksudku mantan kekasihku Devid namanya. Seorang cowok yang pernah menjadi sebagian dari hidupku dulu, tak aku sangka cintanya padaku dulu hanya sekedar omong kosong, padahal aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri, Apapun kulakukan untuknya dan berkorban untuknya tetapi balasanya hanya penghianatan, Jujur hanya penyesalan yang kini ada di hatiku, Oh tuhan… hapus dia dari ingatanku, aku benci mengingatnya, benci pada semua yang ada pada dirinya.
Tiba-tiba fikiranku tertuju pada akun Facebookku yang sudah lumayan lama gak pernah ku buka, tak usah berfikir panjang aku pun segera mengambil jacket levis abu-abuku dan segera merapikan rambutku yang semula berantkan, aku segera keluar rumah dan menstater sepeda motor maticKu menuju warnet yang berjarak sekitar 1 km dari rumahku, pada saat itu tidak ada orang sama sekali di rumah, ayah dan bunda lagi ke rumah Om dan kakak perempuanku sedang kencan sama pacarnya, jadi lebih leluasa aku pergi tanpa pamit ke mereka.
Tak lama kemudian akhirnya sampai juga aku di sebuah warnet “Heaven Net” aku segera masuk dan kebetulan ada satu tempat yang kosong, aku duduk di tempat nomer 9, segera aku buka akun Facebookku yang sudah lama tak pernah ku buka, rasanya udah rindu pengen chatting sama teman-teman Facebook.
Aku buka pesan di Facebookku, ada 4 inbox yang belum terbaca, Dan kebetulan keempatnya ingin mengajak kenalan, Tapi aku hanya tertarik pada sebuah facebook yang bernama ARJUNA PRANATA dia hanya mengirim pesan “hy?”. aku buka kronologi pria itu dan aku lihat fotonya, dia lumayan tampan dan yang tidak ku sangka dia bersekolah di SMKN 2, yang berarti dia satu sekolah dengan mantanku Devid, rasa ingin membalas inbox itu semakin bertambah, dan akhirnya aku balas inbox itu “hy jg!! cpa iia?” dan segera ku kirim tak lama kemudian dia membalas inboxku “aku juna, boleh kenalan gak?” aku segera membalasnya lagi ”Juna anak mna? Boleh aja knpa enggk.. :)” ku tekan tombol enter untuk mengirimnya, beberapa detik kemudian dia membalas “syukur dech kalo” mau kenalan ^_^, nma qm cpa?” aku kembali membalas “Aku Inez ^_^” dan itu berlangsung lumayan lama hingga akhirnya dia meminta nomer HP ku dan aku pun memberinya nomer HPku, pada saat itu aku hanya ingin mencari teman cowok yah sekedar untuk menemani hari-hariku yang kesepian dengan sebuah smsnya agar aku bisa melupakan Devid, tetapi aku salah ternyata sekian lama kita smsan teleponan akhirnya dia pun mengajakku bertemu di sebuah warnet yang tempatnya tepat di depan sekolahnya, aku pun juga penasaran dengan wajah asli pria yang memiliki akun facebook yang bernama ARJUNA PRANATA itu, akirnya akupun mau menemuinya di warnet itu.
Aku datang kesana bersama temanku, amy namanya, tapi saat aku sampai disana dia belum datang, aku putuskan untuk duduk terlebih dulu tanpa menunggunya, aku duduk di nomer 6 dan amy di nomer 7, aku coba sms dia kenapa dia belum datang, dan dia membalas dia akan menemuiku pada saat jam istirahat yaitu setengah 10, tapi saat itu jam menunjukkan jam 9 lebih seperempat.
Aku menunggunya dengan membuka vidio-video drama korea, aku memang sangat menyukai film-film yang berbau korea, beberapa menit kemudian ada pesan masuk di Hpku, ternyata dari juna “kamu di nomer berapa dek?” memang panggilan itu sering dia ucapkan padaku di telfon ataupun di sms, segera aku balas smsnya “nomer 6” belum ada laporan terkirim di Hpku dan aku kira pun Sms itu belum masuk, aku tenang-tenang saja, tapi saat itu juga ada seorang pria yang berdiri tepat di balik komputer yang ada di depanku, dia memberi senyuman padaku tapi aku hanya melongo. segera aku balas senyumannya, aku yakin dia pasti juna, dia sembari menanyaiku “Inez ya..?” tanyanya padaku, “iya kamu juna kan?” balasku “betul sekali” jawabnya dengan senyum yang merekah di bibir merahnya itu, ya ampuun senyumnya manis banget jantung ini berdetak begitu cepat seperti mau copot, oh tuhan apakah dia adalah pangeran langit yang kau turunkan untuk ku, Ah semua hanya hayalku tak mungkin seseorang yang begitu tampan ini bisa menjadi milikku “Huh” dengusku pelan.
Tapi dugaanku salah,sampai pada suatu hari dia mengajakku kencan untuk yang pertama kalinya, aku pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, aku pun menerima ajakanya.
Akhirnya aku pun pergi berdua denganya, aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini sama juna, memeluknya dari belakang saat dia memboncengku, sejenak aku bisa melupakan mantanku yang semula masih kental di memory ingatanku.
Kami berhenti di suatu tempat yang banyak di kunjungi banyak remaja, tak ada rumah hanya pepohonan berbaris baris udaranya sangat dingin. Tetapi mungkin perbedaan mereka sebagai sepasang kekasih tetapi tidak dengan ku dan juna, Just friend.
Aku duduk di sebuah gerdu kecil dan dia menyusul duduk di sampingku, dia memulai perbincangan kami. aku berandai andai, andaikan saja saat ini dia nembak aku, mungkin lengkap sudah kebahagiaanku hari ini, belum berhenti aku berandai andai tiba-tiba juna memandangku dia memegang kedua tanganku, aku sempat tak percaya kalau ini kenyataan aku kira mimpi, ya ampun betapa gembiranya hati ini dia menyatakan perasaannya kalau dia sayang aku dan ingin menjadi pacarku.
Tapi aku tak langsung menerimanya, aku berikan dia satu persyaratan “kalau” kamu memang bener-bener sayang aku dan pengen jadi pacarku aku mau kamu cariin aku bunga mawar putih berduri 100” dia pun mengiyakanya.
Dalam perjalanan pulang aku merasa sangat kedinginan saat di boncengnya, tapi dingin itu berubah menjadi rasa sejuk yang nikmatnya sampai ke relung hati saat dia memegang jemari tanganku, rasanya tak ingin waktu berlalu begitu saja.
Waktu berlalu begitu cepat, 1 minggu setelah kencan pertama itu dia kembali menghubungiku dia berkata sudah dapat bunga yang aku mau, akhinya aku putuskan untuk bertemu denganya di suatu tempat.
Aku menemuinya di salah satu tempat yang mengandung nilai sejarah. Saat aku sampai disana ku lihat di sekelilingku tapi aku tak menemuinya, tak lama kemudian dia sampai di tempat itu dia menemuiku dan membawa bunga mawar putih yang aku inginkan, aku menatapnya dan dia juga menatapku, diam seribu bahasa, tak lama kemudian dia memulai pembicaraan “Gimana, udah resmi kan..?” katanya tersenyum sambil melirikku aku hanya tersenyum tipis sambil melihatnya.
Kami duduk bersandingan di pinggir kolam segaran yang terkenal sejarahnya itu, tidak banyak ucapan yang keluar dari mulut kami berdua jadi terasa sedikit canggung, yah mungkin karena belum terbiasa saja, hemm…
Ku buka lembaran baru dan merobek lembaran lamaku…
Ku buka hatiku tuk cinta baruku dan ku tutup rapat-rapat kenangan masalaluku yang kelam…